Contoh Karya Tulis tentang Perubahan Iklim


Hello guys! Kali ini gue bakalan ngasih sesuatu yang khusus buat lo yang lagi pundungan gak jelas gara-gara bengong sama karya tulis, apalagi kalo yang ditulis tentang perubahan iklim atau kagak pemanasan global atau kagak perubahan iklim global gitu. Nah, kali ini, seperti kata gue pada postingan sebelumnya, gue bakal nyajiin karya tulis yang gue harap bisa jadi inspirasi lo semua yang mau bikin beginian. Tema karya tulis gue ini yaitu “Pengaruh Iklim Global dan Pengaruhnya terhadap Kehidupan Manusia”. Buat hal-hal kayak halaman, kata pengantar, dsb bisa disesuain. Okey, let’s check it out!
Kata Pengantar
          Puji syukur kehadirat Allah swt. karena berkat limpahan rahmat-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan sebuah karya tulis bertema “Pengaruh Iklim Global dan Pengaruhnya terhadap Kehidupan Manusia”. Penulisan karya tulis ini berkaitan dengan perubahan iklim global yang dampaknya saat ini kerap kali kita rasakan.
          Saya mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu saya dalam menyelesaikan karya tulis ini, terutama kepada Allah swt., orang tua saya dan guru Geografi saya, karena tanpa bantuan dari mereka, saya tak mungkin bisa menyelesaikan karya tulis ini. Semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, agar mampu menyikapi perubahan iklim global yang saat ini terjadi di bumi secara bijak. Aamiin.

Sungailiat, 30 April 2014




                                                                             Penyusun

Daftar Isi
Kata Pengantar...................................................1
Daftar Isi.................................................................2
Bab 1: Pendahuluan...........................................4
A.    Latar Belakang.......................................................................................4
B.    Rumusan Masalah................................................................................4
C.    Tujuan Penulisan..................................................................................5
D.   Manfaat Penulisan...............................................................................5
Bab 2: Tinjauan Pustaka..................................6
Bab 3: Metode Penulisan................................7
A.    Metode Studi Pustaka.........................................................................7
B.    Metode Studi Internet........................................................................7
Bab 4: Pembahasan...............................................8
A.    Definisi Perubahan Iklim Global....................................................8
B.    Pemanasan Global Sebagai Penyebab Perubahan Iklim
Global.........................................................................................................8
C.    Efek Rumah Kaca...............................................................................11
D.   Efek Umpan Balik..............................................................................14
E.    Variasi Matahari dan Pengaruhnya Terhadap
Perubahan Iklim.................................................................................16
F.     Ketidakstabilan Iklim.......................................................................18
G.    Sejarah Perubahan Iklim Bumi....................................................19
H.   Model Iklim..........................................................................................21
I.       Dampak Perubahan Iklim Global Bagi Kehidupan
Manusia..................................................................................................22
J.       Cara Menanggulangi Dampak Perubahan Iklim Global....27


Bab 5: Penutup.....................................................30
A.    Simpulan................................................................................................30
B.    Saran.......................................................................................................31
Daftar Pustaka..................................................33
Bab 1: Pendahuluan
a.   Latar Belakang
Iklim merupakan suatu hal yang terjadi di bumi dan dapat memengaruhi jenis dan persebaran tumbuhan dan hewan, kesehatan dan kemampuan bertahan hidup, serta aktivitas kerja manusia.  Iklim sendiri adalah suatu keadaan umum kondisi cuaca yang meliputi daerah yang luas. Masalahnya, saat ini iklim berubah drastis. Musim hujan dan kemarau sudah tak menentu lagi, dimana suhu bumi semakin panas, badai, banjir, dan kekeringan menunjukkan perubahan iklim tersebut. Lapisan es di Antartika dan Arktik pun meleleh. Bahkan, akibatnya kondisi musim di Indonesia tidak normal dimana hujan sering turun pada waktu masuk musim kemarau dan jarang turun pada musim hujan, apalagi dengan adanya fenomena El Nino dan La Nina. Bahkan, akibat hal ini produksi CPO (sejenis kelapa penghasil minyak) pun menurun dan negara penghasil CPO pun merugi.
b.  Rumusan Masalah
Masalah yang dirumuskan dalam karya tulis ini adalah masalah perubahan iklim global dan apa dampaknya bagi manusia. Rumusan masalah secara lebih rinci dijelaskan sebagai berikut:
1.    Apakah yang dimaksud dengan perubahan iklim global?
2.    Apa saja sebab-sebab terjadinya perubahan iklim global?
3.    Apa saja pengaruh yang ditimbulkan oleh perubahan iklim global terhadap lingkungan?
4.    Apa saja ancaman perubahan iklim global terhadap kehidupan manusia?
5.    Bagaimana cara upaya melestarikan lingkungan untuk menanggulangi dampak perubahan iklim global?
6.    Bagaimana pandangan ilmu pengetahuan dan teknologi tentang perubahan iklim global?
7.    Bagaimana cara menumbuhkan rasa kesadaran masyarakat akan dampak negatif perubahan iklim global yang berkepanjangan?
c.   Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan karya tulis ini adalah untuk menyadarkan pembaca tentang bahaya dan dampak negatif dari perubahan iklim global yang semakin terasa dalam kehidupan kita sehari-hari, memotivasi pembaca agar dapat menyelamatkan bumi dan menata lingkungan yang baik demi kesejahteraan dan kemashlatan orang banyak, baik yang hidup pada masa kini maupun masa depan. Selain itu, penulisan karya tulis ini juga dimaksudkan untuk menambah wawasan pembaca akan perubahan iklim global dan dampaknya bagi manusia.
d.  Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan karya tulis ini adalah ingin menyadarkan kepada pembaca akan dampak negatif dari perubahan iklim global terhadap manusia. Pasalnya, saat ini dampak nyata dari perubahan iklim global telah terasa dalam kehidupan saat ini. Selain itu, penulisan makalah ini juga diharapkan dapat membuat masyarakat melakukan aksi nyata untuk mencintai lingkungannya agar keseimbangan alam tetap terjaga di bumi yang kita cintai ini.
Bab 2: Tinjauan Pustaka
Pada bab ini, penulis akan mengambil referensi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) melalui beberapa situs kamus online di internet agar maknanya sepadan dengan tema karya tulis ini.
·       Pengaruh: Daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang.
·       Iklim: Keadaan hawa (suhu, kelembapan, awan, hujan, dan sinar matahari) pada suatu daerah dalam jangka waktu yang agak lama (30 tahun) di suatu daerah. Atau, suasana dan keadaan.
·       Global: Secara umum dan keseluruhan; secara bulat; secara garis besar. Atau bersangkut paut, mengenai, meliputi seluruh dunia.
·       Terhadap: Kata depan untuk menandai arah, kepada, lawan.
·       Kehidupan: Cara (keadaan, hal) hidup.
·       Manusia: Makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain); insan; orang.
Berdasarkan pengertian kata-kata tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian tema karya tulis yaitu “Pengaruh Iklim Global dan Pengaruhnya Terhadap Kehidupan Manusia” adalah daya yang timbul pada keadaan hawa yang meliputi seluruh dunia dan mengarah kepada cara hidup seseorang atau orang banyak.
Bab 3: Metode Penulisan
A.           Metode Studi Pustaka
Pada metode ini, penulis membaca dan mencari buku-buku yang berhubungan dengan perubahan iklim dan dampaknya terhadap kehidupan manusia. Penulis mencari sebanyak-banyaknya sumber mulai dari buku-buku pelajaran (terutama pelajaran Geografi dan Biologi) hingga artikel-artikel di berbagai media seperti surat kabar. Penulis banyak menemukan sumber koleksi buku-buku dan surat kabar lama di rumah penulis sehingga turut membantu mempermudah penulisan karya tulis ini.
B. Metode Studi Internet
Pada metode ini, penulis membuka berbagai macam situs yang berkaitan dengan pemanasan global, mulai dari yang menyediakan artikel-artikel bertema demikian hingga karya tulis sejenis untuk dijadikan inspirasi. Situs-situs yang dimaksud mulai dari blog, kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) online, Wikipedia, situs-situs lembaga pecinta lingkungan, dan situs-situs berita online. Bahkan, berkat menggunakan metode ini, penulis jadi lebih banyak mendapat referensi-referensi lain sebagai pelengkap informasi dalam penyusunan karya tulis ini.
Bab 4: Pembahasan
A.           Definisi Perubahan Iklim Global
Sebelum kita membahas tentang perubahan iklim global itu sendiri, marilah kita membahas tentang apa sesungguhnya perubahan iklim global sendiri. Perubahan iklim adalah perubahan suhu, tekanan udara, angin, curah hujan, kelembapan, ataupun unsur iklim yang mempunyai kecenderungan naik atau turun secara nyata. Karena dampaknya meluas ke seluruh dunia, maka disebut perubahan iklim global.
Perubahan tersebut saat ini berlangsung drastis. Faktor-faktor berupa gejala alam yang menyebabkan gangguan terhadap iklim global dunia antara lain gejala meningkatnya suhu udara di bumi yang disebut efek rumah kaca yang diakibatkan oleh pemanasan global. Selain itu, juga disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil yang merupakan salah satu masalah terbesar. Perubahan iklim menyebabkan dampak-dampak negatif.  Mengenai efek rumah kaca, pemanasan global, dan dampak negatif dari perubahan iklim global akan dibahas selanjutnya.
B. Pemanasan Global Sebagai Penyebab Perubahan Iklim Global
Salah satu penyebab perubahan iklim global adalah pemanasan global. Pemanasan global (global warming) adalah peningkatan suhu atmosfer, lautan, dan daratan Bumi secara global. Lebih lengkapnya, pemanasan global merupakan satu fenomena pemerangkapan gas yang dikenali sebagai efek rumah kaca yang mana kumpulan gas ini menghalang dan memerangkap atmosfer yang bebas keluar ke angkasa. Biasanya, fenomena pemanasan global dapat dirasakan lebih jelas di kawasan kutub utara dan selatan, kawasan pembangunan perindustrian, dan banyak lagi tempat di dunia.
Selama seratus tahun ini, suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F). Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) memberi kesimpulan sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Namun, masih ada beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh proyek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100. Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca pada masa depan, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan terus berlanjut lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil. Ini mencerminkan besarnya kapasitas kalor lautan.
Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrem, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, wilayah tropis yang suhunya kian memanas, meningkatnya badai, kelangkaan air, munculnya berbagai penyakit seperti stroke dan serangan jantung, memperlambat jalannya sirkulasi air laut, dan punahnya berbagai jenis hewan.
Beberapa hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi pada masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih ada perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.
Penyebab-penyebab pemanasan global ialah aktivitas perindustrian yang menggunakan bahan bakar fosil seperti gas alam dan batu bara, polusi angkutan yang disebabkan kendaraan bermotor, pembakaran hutan, aktivitas pertanian yang menggunakan pupuk kimia dan pestisida berlebihan, kotoran hewan ternak yang melepaskan banyak gas metana ke angkasa, asap dan debu hasil letusan gunung berapi, penggunaan AC dan alat-alat kurang ramah lingkungan lainnya, dan sebagainya yang menghasilkan gas-gas buang. Karbon dioksida, sulfur oksida, nitrogen oksida, klorofluorokarbon, gas metana, karbon monoksida, dan gas-gas lainnya dibuang ke udara ketika proses pembakaran berlangsung. Bahkan, gas klorofluorokarbon juga dapat menyebabkan penipisan lapisan ozon.
C. Efek Rumah Kaca
Secara sederhana, efek rumah kaca yang istilahnya pertama kali diusulkan oleh Joseph Fourier pada 1824, merupakan proses pemanasan permukaan suatu benda langit (terutama planet atau satelit), dalam hal ini Bumi yang disebabkan oleh komposisi dan keadaan atmosfernya. Efek rumah kaca secara lebih rinci didefinisikan sebagai terjadinya peningkatan suhu udara di muka bumi akibat semakin banyaknya gas pencemar di udara. Sebenarnya, bukan hanya Bumi yang mengalami efek rumah kaca, melainkan juga Mars, Venus, bahkan satelit alami Saturnus, Titan. Namun, saat ini yang dibahas adalah efek rumah kaca yang ada di Bumi. Efek rumah kaca dapat digunakan untuk menunjuk dua hal berbeda: efek rumah kaca alami yang terjadi secara alami di bumi, dan efek rumah kaca ditingkatkan yang terjadi akibat aktivitas manusia. Yang terakhir disebut diterima oleh semua dan yang pertama disebut diterima kebanyakan oleh ilmuwan, meskipun ada beberapa perbedaan pendapat.
Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbon dioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyakbatu bara dan bahan bakar organik lain yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk menyerapnya. Matahari adalah sumber dari segala energi di bumi. Energi cahaya matahari dirubah menjadi energi yang dapat menghangatkan ketika mencapai permukaan bumi. Permukaan bumi akan menyerap sebagian panas matahari dan memantulkan kembali sisanya. Berikut ini persentase energi yang masuk ke Bumi:
·       25% dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer
·       25% diserap awan
·       45% diserap permukaan bumi
·       5% dipantulkan kembali oleh permukaan bumi
Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, CO2, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Selain gas-gas tersebut, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah belerang dioksida, nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana dan klorofluorokarbon (CFC). Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca.
Gas-gas ini menyerap dan memantulkannya kembali ke permukaan bumi, sehingga panas dari gelombang radiasi tersebut tersimpan di permukaan bumi yang menyebabkan meningkatnya suhu rata-rata tahunan bumi.
Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh seluruh penghuni bumi. Karena tanpa adanya efek rumah kaca, suhu permukaan bumi akan sangat dingin. Suhu rata-rata planet bumi sudah meningkat sekitar 33°C menjadi 15°C dari suhu awal yang -18°C. Jika tidak ada efek rumah kaca ini maka permukaan bumi akan tertutup oleh lapisan es, namun jika berlebihan maka akan menyebabkan pemanasan global. Ada tiga faktor utama tingginya emisi gas rumah kaca, yakni kerusakan hutan dan lahan, penggunaan energi yang tidak ramah lingkungan dan pembuangan limbah. Ini harus dikendalikan agar emisi gas rumah kaca bisa diturunkan. Bicara mengenai gas rumah kaca sendiri, gas rumah kaca adalah gas-gas yang ada di atmosfer yang menyebabkan efek rumah kaca. Gas-gas tersebut sebenarnya muncul secara alami di lingkungan, tetapi dapat juga timbul akibat aktivitas manusia. Gas rumah kaca yang paling banyak adalah uap air yang mencapai atmosfer akibat penguapan air dari laut, danau dan sungai. Karbondioksida adalah gas terbanyak kedua. Ia timbul dari berbagai proses alami seperti: letusan vulkanik; pernapasan hewan dan manusia (yang menghirup oksigen dan menghembuskan karbondioksida); dan pembakaran material organik (seperti tumbuhan).
Karbondioksida dapat berkurang karena terserap oleh lautan dan diserap tanaman untuk digunakan dalam proses fotosintesis. Fotosintesis memecah karbondioksida dan melepaskan oksigen ke atmosfer serta mengambil atom karbonnya.
Meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrem di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Menurut perhitungan simulasi, efek rumah kaca telah meningkatkan suhu rata-rata bumi 1-5 °C. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan 
pemanasan global antara 1,5-4,5 °C sekitar tahun 2030. Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer, maka akan semakin banyak gelombang panas yang dipantulkan dari permukaan bumi diserap atmosfer. Hal ini akan mengakibatkan suhu permukaan bumi menjadi meningkat.
Efek rumah kaca mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut. Efek rumah kaca juga akan mengakibatkan meningkatnya suhu air laut sehingga air laut mengembang dan terjadi kenaikan permukaan laut yang mengakibatkan negara kepulauan akan mendapatkan pengaruh yang sangat besar. Contoh-contoh gas rumah kaca ialah uap air, karbon dioksida, metana, nitrogen oksida, hidrofluorokarbon, klorofluorokarbon, bahkan yang lebih parah yaitu metan dan nitrogen triflorida.
D.           Efek Umpan Balik
Efek umpan balik masih memiliki hubungan dengan efek rumah kaca. Anasir penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara hingga tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat).Umpan balik ini hanya dapat dibalikkan secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer.
Efek-efek umpan balik karena pengaruh awan sedang menjadi objek penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan radiasi infra merah balik ke permukaan, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail tertentu seperti tipe dan ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini sulit direpresentasikan dalam model iklim, antara lain karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan jarak antara batas-batas komputasional dalam model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat). Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua bila dibandingkan dengan umpan balik uap air dan dianggap positif (menambah pemanasan) dalam semua model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC keempat. Efek umpan balik lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya (albedo) oleh es. Ketika temperatur global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersama dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air dibawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan.
Umpan balik positif akibat terlepasnya CO2 dan CH4 dari melunaknya tanah beku (permafrost) adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan. Selain itu, es yang meleleh juga akan melepas CH4 yang juga menimbulkan umpan balik positif.
Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila ia menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunya tingkat nutrien pada zona mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan diatom daripada fitoplankton yang merupakan penyerap karbon yang rendah.
E.Variasi Matahari dan Pengaruhnya Terhadap Perubahan Iklim
Variasi Matahari adalah perubahan jumlah energi radiasi yang dipancarkan oleh Matahari. Terdapat beberapa komponen periodik yang memengaruhi variasi ini, yang terutama adalah siklus Matahari 11-tahunan (atau siklus bintik hitam Matahari), selain fluktuasi-fluktuasi lainnya yang tidak periodik. Aktivitas Matahari diukur dengan menggunakan satelit selama beberapa dekade terakhir setelah pada waktu sebelumnya pengukuran dilakukan melalui variabel-variabel 'proksi'. Para ilmuwan iklim tertarik untuk mengetahui apakah variasi Matahari berpengaruh terhadap Bumi. Salah satunya, dua ilmuan dari Duke University mengestimasikan bahwa Matahari mungkin telah berkontribusi terhadap 45-50% peningkatan temperatur rata-rata global selama periode 1900-2000, dan sekitar 25-35% antara tahun 1980 dan 2000. Stott dan rekannya mengemukakan bahwa model iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat estimasi berlebihan terhadap efek gas-gas rumah kaca dibandingkan dengan pengaruh Matahari; mereka juga mengemukakan bahwa efek pendinginan dari debu vulkanik dan aerosol sulfat juga telah dipandang remeh. Walaupun demikian, mereka menyimpulkan bahwa bahkan dengan meningkatkan sensitivitas iklim terhadap pengaruh Matahari sekalipun, sebagian besar pemanasan yang terjadi pada dekade-dekade terakhir ini disebabkan oleh gas-gas rumah kaca.
Variasi dalam total solar irradiance (TSI) sebelumnya tidak dapat diukur atau dideteksi hingga era penggunaan satelit, walaupun sebagian kecil panjang gelombang ultraviolet bervariasi beberapa persen. Output total Matahari yang telah diukur (selama 3 kali periode siklus bintik hitam 11-tahunan) menunjukkan variasi sekitar 0,1% atau sekitar 1,3 W/m2 dari maksimum ke minimum selama siklus bintik hitam 11-tahunan. Jumlah radiasi Matahari yang diterima permukaan luar atmosfer Bumi sedikit bervariasi dari nilai rata-rata 1366 watt per meter persegi (W/m2).
Fenomena variasi Matahari yang dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan beberapa efek perubahan iklim, sebagai contoh selama periode Maunder Minimum. Sebuah studi tahun 2006 yang dilakukan sebuah tim ilmuan dari Amerika Serikat, Jerman, dan Swiss serta review dari beberapa literatur, yang dipublikasikan dalam Nature, menyatakan bahwa tidak terdapat peningkatan tingkat "keterangan" dari Matahari sejak 1970, dan bahwa perubahan output Matahari selama 400 tahun terakhir kecil kemungkinannya berperan dalam pemanasan global.  . Siklus Matahari hanya memberi peningkatan kecil sekitar 0,07% dalam tingkat “keterangannya/kecerahanya” selama 30 tahun terakhir. Efek ini terlalu kecil untuk dijadikan penyebab terjadinya pemanasan global. Perlu ditekankan, laporan tersebut juga menyatakan, “Selain tingkat terangnya Matahari, hal-hal lain yang dapat memengaruhi iklim seperti radiasi sinar kosmik atau sinar ultraviolet Matahari tidak dapat dikesampingkan, kata penulis tersebut. Akan tetapi, pengaruh-pengaruh lain ini belum dapat dibuktikan, tambah mereka, karena model-model fisik untuk efek-efek ini masih belum sempurna dikembangkan.” Sedangkan sebuah penelitian oleh Lockwood dan Fröhlich menemukan bahwa tidak ada hubungan antara pemanasan global dengan variasi Matahari sejak tahun 1985, baik melalui variasi dari output Matahari maupun variasi dalam sinar kosmis.
F. Ketidakstabilan Iklim
Perkiraan para ilmuwan mengenai ketidakstabilan iklim adalah selama pemanasan global terjadi, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Lautan pun makin luas. Es yang terapung di perairan Utara jumlahnya akan lebih menyusut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung meningkat. Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuwan masih ragu apakah kelembaban tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi dikarenakan uap air adalah gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Namun, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan. Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1% untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini). Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya, beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim lagi.
G.Sejarah Perubahan Iklim Bumi
Perubahan iklim bumi ternyata mempunyai sejarahnya sendiri, seiring dengan usia Bumi yang kita tinggali ini. Umur Bumi kita ini sudah mencapai ratusan juta tahun. Hal ini diukur berdasarkan dating, yaitu cara menghitung umur bumi menggunakan paruh waktu yang terdapat pada unsur-unsur radioaktif seperti karbon, uranium, radon dan lain-lain. Para peneliti bumi atau lebih dikenal dengan sebutan earth scientist mengungkap sejarah-sejarah bumi dari mulai pembentukan, perubahan roman atau morfologi bumi, serta sejarah iklim yang terjadi di bumi. Pembahasan kali ini akan mengungkap bagaimana sejarah perubahan iklim dari zaman purba hingga sekarang, apakah iklim bumi stabil?
Berdasarkan data dari NASA yang memberikan fakta perubahan gas karbon dioksida dari 650.000 tahun yang lalu, data ini diambil dari endapan inti es (ice cores) dari beberapa tempat di belahan bumi. Inti es tersebut di analisa kandungan CO2 serta mengkorelasikan umur inti es tersebut. Berikut grafik perubahan iklim bumi tersebut yang dihitung hingga Juli 2013.


Dari grafik diatas iklim bumi memang tidak stabil. Data tersebut menunjukan dari 650.000 sampai 50.000 tahun yang lalu iklim bumi memiliki perubahan yang stabil, akan tetapi semenjak tahun 1950 yaitu tepatnya pada saat revolusi industri, kadar CO2 meningkat sangat drastis. Penggunaan energi fosil merupakan penyebab utama dari pemanasan global. Sementara penyebab perubahan iklim darii 650.000 - 50.000 tahun yang lalu adalah pergerakan tektonik lempeng yang menyebabkan perubahan roman muka bumi sehingga efeknya akan terjadi perubahan iklim seperti yang kita rasakan saat ini. Hal ini memberikan asumsi bahwa bumi memang memiliki siklus perubahan iklim, namun peradaban manusia-lah yang mempercepat bahkan memperburuk siklus tersebut seperti saat ini.
Bukti dari perubahan iklim yang signifikan dapat kita rasakan atau lihat di sekeliling kita. Musim berganti dengan tidak jelas, tidak beraturan, secara bertahap naiknya permukaan air laut yang terus bertambah dari tahun ke tahun, berkurangnya ketebalan es di kutub utara maupun selatan, dan masih banyak lagi. Hal ini memungkinkan akan tenggelamnya beberapa daratan di muka bumi. Bagaimana peradaban manusia yang akan datang? Apakah ini yang disebut revolusi kehidupan?
H.           Model Iklim
Para ilmuwan telah mempelajari pemanasan global berdasarkan model-model komputer berdasarkan prinsip-prinsip dasar dinamikan fluida, transfer radiasi, dan proses-proses lainya, dengan beberapa penyederhanaan disebabkan keterbatasan kemampuan komputer. Model-model ini memprediksikan  penambahan gas-gas rumah kaca berefek pada iklim yang lebih hangat. Walaupun digunakan asumsi-asumsi yang sama terhadap konsentrasi gas rumah kaca pada masa depan, sensitivitas iklimnya masih akan berada pada suatu rentang tertentu.
Dengan memasukkan unsur-unsur ketidakpastian terhadap konsentrasi gas rumah kaca dan pemodelan iklim, IPCC memperkirakan pemanasan sekitar 1.1 °C hingga 6.4 °C (2.0 °F hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100. Model-model iklim juga digunakan untuk menyelidiki penyebab-penyebab perubahan iklim yang terjadi saat ini dengan membandingkan perubahan yang teramati dengan hasil prediksi model terhadap berbagai penyebab, baik alami maupun aktivitas manusia.
Model iklim saat ini menghasilkan kemiripan yang cukup baik dengan perubahan suhu global hasil pengamatan selama seratus tahun terakhir, tetapi tidak mensimulasi semua aspek dari iklim. Model-model ini tidak secara pasti menyatakan bahwa pemanasan yang terjadi antara tahun 1910 hingga 1945 disebabkan oleh proses alami atau aktivitas manusia, akan tetapi mereka menunjukkan bahwa pemanasan sejak tahun 1975 didominasi oleh emisi gas-gas yang dihasilkan manusia.
Sebagian besar model-model iklim, ketika menghitung iklim pada masa depan, dilakukan berdasarkan skenario-skenario gas rumah kaca, biasanya dari Laporan Khusus terhadap Skenario Emisi (Special Report on Emissions Scenarios / SRES) IPCC. Yang jarang dilakukan, model menghitung dengan menambahkan simulasi terhadap siklus karbon; yang biasanya menghasilkan umpan balik yang positif, walaupun responnya masih belum pasti (untuk skenario A2 SRES, respon bervariasi antara penambahan 20 dan 200 ppm CO2). Beberapa studi-studi juga menunjukkan beberapa umpan balik positif.
Pengaruh awan juga merupakan salah satu sumber yang menimbulkan ketidakpastian terhadap model-model yang dihasilkan saat ini, walaupun sekarang telah ada kemajuan dalam menyelesaikan masalah ini. Saat ini juga terjadi diskusi-diskusi yang masih berlanjut mengenai apakah model-model iklim mengesampingkan efek-efek umpan balik dan tak langsung dari variasi Matahari.
I.    Dampak Perubahan Iklim Global Bagi Kehidupan Manusia
Dampak pemanasan global dan perubahan iklim telah merambah sekitar kita.  Curah hujan tidak beraturan dan jika turun dalam volume yang sangat besar, diselingi dengan tiupan angin kencang menerpa bagian terbesar wilayah Indonesia selama tiga bulan terakhir ini. Fenomena tersebut memicu terjadinya bencana lingkungan seperti banjir di sepanjang DAS Bengawan Solo, Pantura Jawa dan beberapa daerah langganan banjir di Jakarta. Banjir dan tanah longsor memang juga dipicu oleh menurunnya daya dukung lingkungan karena penggundulan hutan, alih fungsi lahan dan berkurangnya kapasitas sungai karena sedimentasi dan penumpukan sampah.  Perubahan iklim memang telah kita rasakan dalam beberapa tahun terakhir ini. Disamping fenomena diatas, musim kemarau selalu datang dengan panas sangat menyengat yang memicu terjadinya kekeringan.  
Dampak perubahan iklim bukan hanya menimpa Indonesia tetapi hampir seluruh warga bumi. Kyoto, kota tempat para pemimpin dunia pada tahun 1997 sepakat untuk mengurangi emisi CO2, tidak luput dari pengaruh perubahan iklim global. Pertengahan Maret yang normalnya sudah mulai musim semi, namun musim dingin dengan temperatur 2OC terasa menusuk tulang dan di beberapa sudut kota diwarnai dengan percikan salju. Peluncuran film dokumenter berjudul An Inconvenient Truth (Kebenaran yang Tidak Menyenangkan) yang menyabet 3 hadiah Oscar menandai keprihatinan terhadap perubahan iklim global. Di Eropa, Belanda juga masih mengalami percikan salju di bulan Februari dengan suhu dibawah nol derajat. Suatu kondisi iklim yang tidak biasanya terjadi. Menurut laporan Panel antar Pemerintah untuk Perubahan Iklim, peningkatan temperatur yang berkisar antara 1 sampai 3 derajat celcius akan menimpa seluruh kawasan benua di bumi ini. Sedangkan skenario rendah dari kenaikan rata-rata permukaan air laut berkisar antara 18 sampai dengan 38 cm. 
Perubahan cuaca dan iklim dapat mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit yang berhubungan dengan panas (heat stroke) dan kematian. Temperatur yang panas juga dapat menyebabkan gagal panen sehingga akan muncul kelaparan dan malnutrisi. Perubahan cuaca yang ekstrem dan peningkatan permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub utara dapat menyebabkan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan bencana alam (banjir, badai dan kebakaran) dan kematian akibat trauma. Timbulnya bencana alam biasanya disertai dengan perpindahan penduduk ke tempat-tempat pengungsian dimana sering muncul penyakit, seperti: diare, malnutrisi, defisiensi mikronutrien, trauma psikologis, penyakit kulit, dan lain-lain.
Pergeseran ekosistem dapat memberi dampak pada penyebaran penyakit melalui air (Waterborne diseases) maupun penyebaran penyakit melalui vektor (vector-borne diseases). Seperti meningkatnya kejadian Demam Berdarah karena munculnya ruang (ekosistem) baru untuk nyamuk ini berkembang biak. Dengan adamya perubahan iklim ini maka ada beberapa spesies vektor penyakit (seperti Aedes aegypti), Virus, bakteri, plasmodium menjadi lebih resisten terhadap obat tertentu yang target nya adalah organisme tersebut. Selain itu bisa diprediksi kan bahwa ada beberapa spesies yang secara alamiah akan terseleksi ataupun punah dikarenakan perbuhan ekosistem yang ekstrem ini. hal ini juga akan berdampak perubahan iklim (climate change) yang bisa berdampak kepada peningkatan kasus penyakit tertentu seperti ISPA (kemarau panjang/kebakaran hutan) dan DBD (kaitan dengan musim hujan tidak menentu).
Pemanasan global sebagai akibat adanya Efek Rumah Kaca (ERK) yang diikuti oleh perubahan iklim akan menyebabkan perubahan-perubahan kondisi alam. Sejumlah bukti yang memperlihatkan adanya pemanasan global dalam kurun waktu 50 tahun terakhir disebabkan oleh ulah tangan manusia. Lihat saja, disepanjang tahun 2002 terjadi banyak kejadian alam yang ekstrem (Gntheroth, 2002 dalam Rachmawan, 2006), yaitu munculnya badai El Nino di wilayah pasifik dan suhu si seputar garis katulistiwa meningkat 1 Celcius. Di Australia selatan panjang wilayah kebakaran hutan mencapai 3200 km. Di Cina pada bulan April terjadi badai salju terparah sejak 40 tahun terakhir dan banjir besar terjadi pada bulan Juni dengan ratusan korban jiwa. Bulan Agustus, terjadi banjir di wilayah timur India dan kekeringan parah di wilayah barat. Di Siberia mengalami suhu hangat yang tidak biasa di bulan Mei. Sementara di Moskow mengalami bulan Januari terhangat sejak 1904; suhu melonjak tiba-tiba dari minus 30 Celsius menjadi plus 3,5 Celsius. Di wilayah Eropa kejadian ekstrem terjadi pada bulan Januari di Yunani, Turki, Mallorca dan Italia dimana bentuk curah hujan salju yang sangat tinggi. Di Afrika, sepanjang Juli hingga Agustus, kelaparan akibat kekeringan melanda Zimbabwe, Malawi, Zambia, Mozambik, Lesotho, Swaziland, Kenya (dimana curah hujan berkurang hingga 50%), dan Ethiopia. Situasi buruk ini juga terjadi di benua Amerika. Di bulan April kekeringan melanda wilayah timur AS. Bulan Juli kekeringan melanda 40% wilayah AS hingga 45 kebakaran hutan tercatat di Quebec hingga asapnya sampai ke New York yang berjarak sekitar 700 km. Pada bulan Agustus di Kanada tercatat kekeringan terparah sejak dimulainya pencatatan kondisi cuaca 130 tahun yang lalu. Kondisi yang paling parah sebagai akibat pemanasan global adalah benua Asia. Diprediksikan bahwa setiap kenaikan suhu udara 2 Celsius akan menurunkan produksi pertanian antara lain di Cina dan Bangladesh sebanyak 30% pada tahun 2050. Kelangkaan air meningkat seiring dengan menurunnya lapisan es pegunungan Himalaya. Salah satu dampak yang paling banyak terjadi di Asia sebagai akibat pemanasan global adalah peningkatan permukaan air laut.
Kembali ke Indonesia. Dampak pemanasan global yang paling terasa bagi negara berkembang seperti Indonesia adalah pada sektor pertanian. Dengan adanya pemanasan global akan mengakibatkan perubahan iklim dan kondisi cuaca yang tidak menentu (anomali cuaca). Dampaknya adalah petani sering terkecoh oleh cuaca. Pola tanam yang dilakukan oleh petani yang biasanya dilakukan berdasarkan musim (musiman) seringkali meleset. Sebagai contoh di bulan Oktober sampai Desember sudah terjadi hujan satu sampai dua hari dianggap sudah masuk musim hujan. Padahal sampai Januari hujan tidak turun, akibatnya padi yang sudah ditanam mati kekurangan air. Kegagalan panen terjadi, petani rugi dan harga beras naik.
Di kawasan Asia Tenggara, tercatat kenaikan temperatur pada kisaran 0,4-1 derajat celcius. Diperkirakan kenaikan temperatur di wilayah Asia Tenggara untuk janga menengah di tahun-tahun mendatang (2046-2065), akan terjadi pada rentang 1,5-2 derajat celcius.
Curah hujan diperkirakan akan meningkat di negara seperti Indonesia dan Papua Nugini. Sedangkan di negara-negara seperti Thailand, Laos, Myanmar, Kamboja dan Vietnam curah hujan diperkirakan akan menurun sebesar 10-20 persen di bulan Maret-Mei. Secara keseluruhan, curah hujan tahunan diperkirakan akan meningkat, kecuali di bagian Barat Daya Indonesia.  Kelembaban tanah akan meningkat hingga 1 mm di bagian Barat Daya dari kawasan ini (Papua Nugini), dan penurunan sekitar 0,6 mm di bagian barat region ini, yaitu di negara-negara Laos, Vietnam, Kamboja, Thailand, Malaysia, sebagian Indonesia,dan sebagian Myanmar. kawasan  pesisir  pantai  di seluruh  Asia  Tenggara  akan  mengalami  kenaikan  muka  air  laut  10-15  persen lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata kenaikan muka air laut global.
Kenaikan muka air laut di tahun 2050 akan mencapai hingga 50 cm dan 100 cm di tahun 2090, dimana kota-kota besar di Asia Tenggara seperti Jakarta, Bangkok, Ho Chi Minh, Manila dan Yangon akan terkena dampak yang paling besar.
J.   Cara Menanggulangi Dampak Perubahan Iklim Global
Perubahan iklim global saat ini telah memberikan dampak yang signifikan bagi kehidupan di Bumi yang kita tinggali. Terutama dampak negatifnya, malah jauh lebih besar dan saat ini makin terasa saja bagi kehidupan manusia. Hal ini menyadarkan kita untuk selalu menjaga lingkungan kita untuk menanggulangi dampak perubahan iklim global. Berikut ini berbagai cara untuk menanggulangi dampak perubahan iklim global demi kehidupan masa kini dan masa depan:
a.     Melakukan penanaman pohon sebanyak mungkin, terutama di daerah hutan yang telah gundul. Hal ini dikarenakan daun-daun pada pohon menyerap karbon dioksida untuk fotosintesis.
b.    Menanam bakau di pesisir pantai untuk mencegah terjadinya abrasi.
c.      Revitalisasi terumbu karang di laut yang sudah dirusak oleh aktivitas penambangan, termasuk yang terjadi di Bangka Belitung.
d.    Membangun sistem peringatan dini, khususnya di pemukiman yang sangat rawan terhadap dampak buruk perubahan iklim.
e.     Menghemat listrik, seperti mematikan lampu jika siang hari dan mematikan peralatan listrik jika tidak diperlukan, terutama pada malam hari dimana beban puncak konsumsi listrik terjadi pada pukul 18.00-21.00.
f.       Mencegah penebangan liar dan menerapkan sistem tebang pilih (pohon yang boleh ditebang harus memiliki diameter 60 ke atas).
g.     Membuat sengkedan di daerah lereng pegunungan yang digunakan sebagai lahan pertanian untuk mencegah hanyutnya humus karena erosi.
h.    Mengolah limbah terlebih dahulu sebelum dibuang ke lingkungan.
i.       Menggunakan bahan-bahan dan barang-barang yang ramah lingkungan, seperti menggunakan kantong pengganti kantong plastik untuk berbelanja dan menggunakan lemari es yang tidak melepaskan CFC.
j.       Menerapkan prinsip 4R, yaitu Reuse (memakai kembali barang-barang yang tak terpakai untuk keperluan lain), reduce (mengurangi pemakaian barang dan menggunakannya saat perlu saja), recycle (mendaur ulang barang yang tak terpakai menjadi barang yang bermanfaat), dan replace (mengganti barang yang tidak ramah lingkungan dengan barang yang ramah lingkungan).
k.     Melakukan remediasi (membersihkan permukaan tanah dari berbagai macam polutan dengan bantuan bakteri dan jamur).
l.       Mengurang penggunaan pestisida dan pupuk buatan.
m. Kurangi penggunaan energi fosil pada kendaraan pribadi, gunakan transportasi umum karena cukup mengurangi pembakaran karbon dibanding memakai kendaraan pribadi.
n.    Biasakan berjalan kaki atau bersepeda dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Jika terpaksa menggunakan kendaraan, gunakan kendaraan umum. Hal ini masih mempunyai hubungan dengan poin m tadi.
o.     Mengganti bola lampu dengan jenis TL yang hemat energi.
p.    Memanfaatkan cahaya matahari (dengan genteng kaca, glass box, konstruksi jendela) sebagai salah satu sumber penerangan dalam rumah.
q.    Di kantor atau di rumah yang dilengkapi dengan alat pendingin udara sebaiknya disetel dengan suhu udara minimal 25 derajat.
r.      Mengembangkan energi baru seperti pembangkit tenaga surya, nuklir, dan angin, namun sayangnya biaya instalasinya masih mahal, bahkan untuk nuklir masih kontroversial karena alasan keselamatan dan limbah. 
s.      Penetralan limbah industri dengan membuat instalasi pengolahan limbah.
t.       Memotivasi diri sendiri dan masyarakan untuk berperan menyelamatkan Bumi.
Bab 5: Penutup
A.           Simpulan
Perubahan iklim global adalah perubahan unsur iklim apapun yang mempunyai kecenderungan naik atau turun secara nyata secara mendunia. Faktor-faktornya antara lain gejala meningkatnya suhu udara di bumi yang disebut efek rumah kaca yang diakibatkan oleh pemanasan global. Pemanasan global sendiri adalah peningkatan suhu atmosfer, lautan, dan daratan Bumi secara global. Seratus tahun ini, suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat tajam. Penyebabnya diantara lain penggunaan bahan bakar fosil berlebihan, peralatan bahan yang tidak ramah lingkungan, dan sebagainya yang dapat membuang gas-gas tertentu ke atmosfer. Pemanasan global menimbulkan efek rumah kaca, yaitu terjadinya peningkatan suhu udara di muka bumi akibat semakin banyaknya gas pencemar di udara. Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbon dioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Efek rumah kaca berakibat mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub dan meningkatnya suhu air laut. Selain efek rumah kaca, juga ada efek umpan balik seperti pada proses penguapan air dan variasi matahari yaitu perubahan jumlah energi radiasi yang dipancarkan Matahari.
Perkiraan para ilmuwan mengenai ketidakstabilan iklim adalah selama pemanasan global terjadi, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara akan lebih memanas dari daerah lainnya. Salah satu dampaknya yaitu daratan bersalju akan mencair dan lautan meluas dan suhu di Bumi menghangat.  Perubahan iklim global memliki sejarahnya sendiri, dimana dari 650.000 sampai 50.000 tahun yang lalu iklim bumi memiliki perubahan yang stabil, namun sejak 1950 kadar CO2 meningkat sangat drastis karena penggunaan energi fosil. Para ilmuwan telah mempelajari pemanasan global berdasarkan model-model komputer yang memprediksikan  penambahan gas-gas rumah kaca berefek pada iklim yang lebih hangat Walaupun digunakan asumsi-asumsi yang sama, sensitivitas iklim masih akan berada pada suatu rentang tertentu. Model iklim saat ini menghasilkan kemiripan yang cukup baik dengan perubahan suhu global, tetapi tidak mensimulasi semua aspek dari iklim.
Dampak dari perubahan iklim global sudah terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara, terutama di Indonesia. Secara umum, dampak perubahan iklim global bagi manusia tersebut ialah penyakit yang berhubungan dengan panas dan bencana alam yang bisa berakibat kematian, petani yang sering terkecoh oleh cuaca dan berakibat gagal panen, penyebaran penyakit melalui air, vektor, maupun perubahan-perubahan kondisi alam yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Cara untuk menanggulangi dampak perubahan iklim global ialah menanam pohon dan bakau, melestarikan terumbu karang, melakukan penghematan energi dan sumber daya, melakukan gerakan 4R (reuse, reduce, recycle, replace), meminimalisasi dampak limbah, mencegah penebangan liar dan menerapkan sistem tebang pilih, membuat sengkedan, mengusulkan sumber energi alternatif, dan sebagainya.
B. Saran
Berikut adalah saran-saran yang bisa dilakukan untuk mengatasi efek perubahan iklim global yang saat ini makin menjadi:
·       Masyarakat pada umumnya diharapkan agar mampu menjaga lingkungannya agar mampu menyelamatkan bumi meski dengan hal-hal kecil, seperti membuang sampah pada tempatnya, tidak menggunakan produk yang tidak ramah lingkungan, menanam pohon, dan lainnya.
·       Pemerintah diharapkan agar lebih proaktif dalam upaya pelestarian lingkungan dengan menciptakan program-program yang berwawasan lingkungan, seperti penanaman pohon massal, revitalisasi terumbu karang, atau memberikan izin ketat bahkan bila perlu melarang kegiatan-kegiatan yang dikhawatirkan merusak lingkungan, seperti penambangan liar, dan sebagainya.
·       Sekolah sebagai lembaga pendidikan hendaknya bersama-sama menciptakan kawasan pendidikan berbasis lingkungan dan kurikulum berbasis lingkungan, serta mengajak siswa-siswinya untuk mencintai lingkungan, dalam hal ini lingkungan sekolahnya seperti mengajarkan siswa untuk membuang sampah pada tempatnya, meminimalisir penggunaan kemasan makanan berbungkus plastik, mendaur ulang sampah menjadi barang kerajinan yang bernilai ekonomi tinggi, dan lainnya.
·       Lembaga-lembaga terkait diharapkan agar ikut membantu upaya pemerintah dalam pelestarian lingkungan serta mengajak masyarakat mencintai lingkungannya seperti mengadakan program penanaman sejuta pohon, mengadakan pelatihan wirausaha pembuatan bahan bakan non-fosil atau kerajinan barang-barang hasil daur ulang, penanaman bakau, dan lain sebagainya.
Daftar Pustaka
Abadi, Rinawan & Rohana Kusumawati. 2012. Detik-Detik Ujian Nasional Ilmu Pengetahuan Alam Tahun Pelajaran 2012/2013. Klaten: Intan Pariwara.
Feryanto, Agung, dkk. 2010. PR IPS Terpadu untuk SMP/MTs Kelas VII Semester 2. Klaten: Intan Pariwara.
__________________________. 2010. PR IPS Terpadu untuk SMP/MTs Kelas VIII Semester 1. Klaten: Intan Pariwara.
Fitriana, Anisyah. 2013. Kharisma Buku Pendamping Geografi untuk SMA/MA Kelas 10 Jilid 1A. Solo: CV. HaKa MJ.
Kusumawati, Rohana, dkk. 2009. PR IPA Terpadu untuk SMP/MTs Kelas VII Semester 2. Klaten: Intan Pariwara.
Septianing, Rasti & Aggarwal. 2013. Panduan Belajar Biologi 1B SMA Kelas X. Jakarta: Yudhistira.
Tim Penyusun Ilmu Sosial. 2013. Kreatif Geografi SMA/MA Kelas X Semester 2. Klaten: Viva Pakarindo.

Sumber Artikel:
“Badai, Banjir, & Kekeringan”, Babel Pos, 23 April 2014.

Sumber Internet:
http://artikel.cindycomputer.com/2013/11/efek-negatif-kenaikan-suhu-terhadap.html

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.
Flying Cute Pink Butterfly