Me and Marissa Anita Part 3 (And Last Season): Who’s Her? This is Her Biography!



Hallow semua! Udah lama nih part 3 dari Me and Marissa Anita cuma nguap doang tanpa realisasi harmonisisasi imunisasi reboisasi konspirasi vickynisasi neeh! Nahloh, sesuai janji gue gue bakalan ngasih biografi dari mbak Marissa yang gue sebagai salah satu posting pembuka di awal tahun sekaligus sekuel terakhir dari Me and Marissa Anita.

Nahh, dulu waktu ending season 2 kan gue pernah bilang kalo gue bakal ngasih bionye mbak Marissa sesuai apa yang gue tau. Tapi, ternyata gue sadar kalo gue juga butuh sumber-sumber lain buat ngelengkapin apa yang gue tau. Gak papa deh, sekalian nyari tau soal dia, hehehe. Terutama dari Wikipedia, Linked.in-nye mbak Marissa *maaf ya sebelumnye Mbak*, sama sumber lainnye (terutama media online) plus artikel koran lokal daerah gue yang pernah ngeberitain mbak Marissa jaman filmnye, Selamat Pagi, Malam, baru press screening.

Nahh, berikut ini nih biografinye mbak Marissa yang gue udah gabungin dari sumber sono-sini. Maaf kalo ada salah dalam hal apapun yang kalian temuin dalam biografi ini. Dan biografi mbak Marissa ini bahasanya baku! EYD! Langka banget di nih blog!

Pokoknye selamat baca yaks! Semoga bermanfaat! Cekidot!

****

Marissa Anita yang lahir di Surabaya, Jawa Timur, 29 Maret 1983 dan sekarang berumur 31 tahun adalah seorang jurnalis dan presenter berita Indonesia. Ia pernah berkarier di salah satu stasiun televisi swasta nasional, Metro TV. Ia mulai tenar setelah bersama koleganya yang lain memandu acara 8-11 Show dari jam 8 pagi sampai jam 11 siang hampir setiap harinya yang membuat namanya mulai dikenal luas. Ia kemudian pindah ke stasiun televisi swasta NET. pada Mei 2013 dan makin tenar ketika memandu program Indonesia Morning Show.

Marissa yang merupakan putri dari seorang ibu yang berdarah Minang dan ayah yang berdarah Jawa dan Tionghoa ini melalui masa kecilnya dengan berpindah-pindah kota karena aktivitas orang tuanya. Dia merupakan anak tengah dan satu-satunya perempuan, sementara kakak dan adiknya adalah laki-laki. Hal ini membuat Marissa menjadi sosok perempuan tomboy. Sebagai anak perempuan satu-satunya, ternyata Marissa tidak mendapat perlakuan yang berbeda. Malah menurut Marissa, kedua orangtuanya lebih membebaninya dalam urusan rumah. Termasuk diwajibkan untuk membantu urusan rumah. Karena disiplin dan didikan orangtua itu pula, Marissa terbiasa mandiri.

Tidak seperti anak-anak pada umumnya yang begitu mudah untuk mendapatkan barang yang diinginkan, Marissa harus menabung terlebih dahulu bila ingin membeli suatu barang. “Saya bersyukur karena saat saya berusaha sendiri dan akhirnya dapat, rasanya, tuh, beda dibandingkan kalau saya minta,” katanya dalam suatu wawancara dengan Tabloid Nova, Agustus 2011 lalu.


Suasana kekeluargaan dan kebersamaan saat ramadhan kemudian Lebaran ternyata juga dirasakan Marissa. Meski Marissa saat ini menganut agama Katolik, namun banyak pengalaman unik seputar puasa dan Lebaran yang dialaminya saat kecil, karena keluarganya yang memiliki beragam agama dan kepercayaan.”Ibuku Minang, Muslim. Bapak Jawa Cina, Katolik. Waktu kecil lucu, tidak seideal bayangan sih, namanya bapak ibu masih muda. Bapak narik ke Katolik, ibu dan nenek narik ke muslim. Aku diajarin salat dan lain-lain, tapi di saat yang sama ke gereja juga. Umur 4-5 tahun dikasih sajadah sama nenek dan ikutan salat juga,” ungkap Marissa saat ditemui GATRAnews di kawasan SCBD, Jakarta.

Mendapat pengaruh dari dua agama, Marissa mengakui ia menyerap nilai-nilai dari keduanya. Meski sempat bingung dan ikut sana-sini, Marissa percaya yang terpenting adalah bagaimana seseorang berbuat kebaikan terhadap orang lain. Ia juga mengagumi ibunya yang walaupun sedang menjalani ibadah puasa, tetap akan selalu memasak buat anak-anaknya.”Hebatnya dia pagi siang malam akan tetap menyiapkan makanan untuk anak-anaknya. Buat ibuku, puasa itu melatih kesabaran sekaligus menyebarkan cinta kasih. Dia nggak merasa terganggu atau orang harus hati-hati sekitar dia. Kan godaan sengaja ada agar menguji tahan atau nggak. My mom is a great example,” tutur anak tengah dari tiga bersaudara ini.

Meski tak menjalankan puasa, namun suasana Lebaran yang diisi dengan makan bersama keluarga menjadi kenangan yang manis buat Marissa sendiri. Apalagi ia kangen dengan masakan sayur ketupat ibunya. “Kalau Lebaran, ibu masak ketupat enak banget. Mom, I love you. Keluarga ibu dan bapak semuanya di Surabaya jadi kalau momen bersama ibu saat Lebaran cuma berlima aja. Kita semua bareng Natalan iya, Lebaran iya, dan Chinese New Year juga,” demikian Marissa.

Oiya, Marissa juga bisa bersiul dengan keras, indah, dan dengan vibra. Marissa mengaku bahwa keterampilannya bersiul merupakan hasil ajaran sang bunda ketika dirinya masih kecil, dan terbawa sampai sekarang. “Bersiul bisa membuat diri saya bahagia,” terang wanita yang juga mengaku terampil memasak ini.

Marissa Anita mengaku pernah menjadi anak yang tidak pintar ketika zaman sekolah dulu. Ia bahkan mengaku lebih sering bergaul dengan teman yang prestasinya kurang dari rata-rata di kelas. “Aku, tuh, main sama grup yang bodoh-bodoh, deh,” Marissa menceritakan pengalamannya ketika sekolah menengah pertama kepada Tempo.co, Jumat, 24 Mei 2013.

Ia pun mengaku dirinya pernah berada di peringkat terbelakang. Walau selalu naik kelas, pengalaman buruk itu terjadi sejak SD hingga SMP. Menurut dia, semakin naik kelas, prestasinya terus saja menurun. “What is wrong with me?” kata Marissa bingung terhadap dirinya kala itu. Menurut dia, semua terjadi karena ia sangat membenci sekolah. Marissa mengaku tidak punya semangat untuk bersekolah dan belajar. “Kalau sekolah itu kayak enggak tahu passion-nya apa,” ia mengakui.

Namun kehidupannya mulai berubah ketika duduk bersebelahan dengan Tita Cyntia saat kelas tiga SMP. “Tita itu cantik, pinter, enggak sombong lagi. Dan dulu itu jarang kayak gitu,” kata Marissa. Tita mengajarinya banyak hal. Ketika Marissa mengalami kesulitan pada pelajaran matematika atau bahasa Inggris, Tita membantunya memahami bagian yang ia tidak bisa.

Tita juga berkali-kali meyakinkan Marissa bahwa dirinya bisa melakukan segala hal. “Dia itu salah satu orang yang memotivasi aku untuk selalu menjadi lebih baik. And it’s so inspiring,” kata Marissa. “Sejak itu, aku mulai belajar dengan benar. Hingga lulus SMP dan masuk SMK Theresia,” kata wanita yang sejak SD hingga SMK bersekolah di sekolah Katolik ini.

Nahh, dulu ketika dirinya diarahkan untuk memasuki SMK jurusan tourism/pariwisata, tepatnya di SMK Theresia, ia mengaku tidak terlalu tertarik karena lebih berpikir untuk memilih jurusan mainstream.  Akhirnya dengan terpaksa ia masuk ke SMK pariwisata. Ketika di SMK, Marissa merasa datang di dunia baru. Tidak ada yang tahu prestasi buruknya selama SD hingga SMP. Teman-temannya mengenal wanita kelahiran Surabaya ini ketika di SMA atas prestasinya.

Dan, di luar dugaan, prestasinya ternyata sangat memuaskan, sehingga menjadikannya semakin termotivasi. Kenapa?

Pada masa SMA, ia semakin ngoyo belajar. Di kelas satu SMA, ia langsung masuk peringkat 16. Semakin rajin ia belajar di SMK dengan jurusan tourism itu, prestasinya pun semakin meningkat. “Sampai kelas 3 SMA, aku rangking tiga. Itu prestasi terbaikku semasa sekolah,” katanya.

Dulu semasa remaja, ia pernah terkena penyakit anoreksia atau masalah gangguan makan di mana tubuhnya menolak untuk makan alias kehilangan selera makan. Penyakit itu berawal ketika Marissa berusia 14 tahun. Berat badannya kala itu hanya 38 kilogram. Merasa bentuk tubuhnya kerempeng dan tak sebagus rekan-rekannya, ia lantas mengkonsumsi vitamin untuk mendongkrak bobot tubuhnya. Hasilnya, berat badannya naik 10 kilogram menjadi 48 kilogram.

Itulah bobot tubuh terberat yang pernah ia alami sepanjang hidupnya. Tapi, peningkatan berat badan yang drastis itu ternyata membuat Marissa malah minder. Ia malu karena merasa tubuhnya menjadi sangat gemuk. Akibatnya, Marissa memutuskan untuk berhenti makan.

Dalam sehari, ia hanya satu kali makan. Itu pun berupa semangkuk besar sayur bayam dengan ati. Bila rasa lapar menyergap, Marissa hanya melahap enam buah jeruk atau apel. Akibat diet ketat yang tak terkontrol ini membuat Marissa sering jatuh sakit dan pingsan karena lemah.

Orang tuanya khawatir terjadi apa-apa dengan putrinya itu. Ketika dibawa ke dokter, Marissa hanya divonis kurang gizi. "Selama enam tahun itu, sepertinya orang tuaku tidak sadar kalau aku punya penyakit anoreksia," kata wanita yang saat ini berbobot 47 kilogram dengan tinggi 168 sentimeter ini ketika diwawancarai Tempo.co awal Oktober 2014 lalu.

Marissa memang selalu konsisten dengan apa yang ia sukai. Inilah yang sempat membuatnya bermasalah karena menjadikannya sebagai pribadi yang perfeksionis. “Saya percaya bahwa hasil yang bagus adalah hasil ketekunan. Itu membuat saya sulit untuk tenang jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan.

“Contoh yang paling sederhana, ketika saya sedang membersihkan lantai, itu harus 100% bersih, tidak boleh ada satupun titik noda yang terlihat. Jika ada, itu membuat saya tersiksa untuk terus membersihkannya lagi dan lagi hingga benar-benar hilang. Sama ketika saya masih sangat oversensitive terhadap perasaan orang lain. Misalnya ada gesekan sedikit saja, saya bisa bereaksi lebih.”

Seiring dengan berjalannya waktu, kehidupan membuatnya semakin dewasa dan mudah berkompromi. “Ternyata, masih banyak hal yang lebih penting untuk kita pikirkan ketimbang harus stres dengan sedikit noda. Banyak hal yang memang tidak sesuai harapan, tetapi kita tetap harus berusaha mencapai apa yang ingin kita capai. Walau tidak sempurna, ya sudahlah. Life’s good. Don’t sweat a small things,” ungkapnya.

***



Sosok Marissa Anita bisa dibilang nyaris sempurna. Tapi, tak melulu hanya soal fisik, karena wanita tomboi ini membuktikan kecerdasannya. Terbukti, kecintaannya pada bahasa memudahkannya dalam mempelajari bahasa-bahasa lain selain bahasa ibu. Kini Marissa menguasai sedikitnya lima bahasa selain bahasa Indonesia, yaitu bahasa Inggris, Jepang, Perancis, Mandarin dan Italia. Nah, bagaimana proses Marissa mempelajari bahasa-bahasa tersebut?

Marissa menempuh pendidikan tingginya di Universitas Atma Jaya, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, dan mendapatkan gelar S1 dari universitas tersebut pada tahun 2005. Marissa sengaja memilih jurusan Bahasa karena memang sejak kecil ia sangat menyukai bahasa. Bahasa pertama yang ia pelajari adalah bahasa Inggris. Walaupun demikian, hal itu bukan prioritasnya. “Daripada memasuki kuliah manajemen yang sudah pasti saya tidak menguasainya, mending saya ke sekolah Bahasa Inggris.” Selanjutnya, ia mulai mempelajari bahasa Jepang, Prancis, Mandarin, dan Italia. “Saya cinta sekali sama bahasa dan buat saya menyerap bahasa itu sangat mudah,” ujarnya. Ternyata, semangat yang ditularkan Tita semasa SMP terus mengalir pada dirinya. Ia terus meningkatkan prestasi saat kuliah. Ia pun lulus S1 di tahun 2005 dimana hasilnya tidak sekadar memuaskan karena ia menjadi lulusan terbaik di angkatannya dan meraih IPK 3,82, ia langsung menjadi guru Bahasa Inggris di lembaga bimbingan belajar English First di kawasan Tebet, Jakarta Selatan dimana dia bekerja dengan tim yang terdiri dari guru lokal dan internasional serta belajar untuk berkomunikasi dan bekerja secara efektif dengan orang-orang yang berbeda budaya.

Hal ini berlanjut sebelum melanjutkan pendidikannya ke University of Sydney, New South Wales, Australia, pasasarjana Jurnalistik dimana ia meraih gelar Master of Media Practice (S2). Hal ini didasari ketertarikannya dengan dunia media. Ia pun terus menjadi juara hingga lulus menjadi salah satu dari enam siswa terbaik di kampusnya itu. “Cuma karena satu orang percaya, ‘You are better‘, aku bisa berubah. Dan aku rasakan sendiri,” katanya mengingat pengalamannya dengan Tita, salah satu teman kecilnya itu.

 Berat pada awalnya, karena untuk pertama kalinya, Marissa harus hidup di negeri orang. “Kalau ayah, sih, enggak masalah karena buat Ayah. Yang penting saya belajar dengan baik dan pulang ke rumah menjadi anak yang baik. Paling ibu yang agak sulit karena saya dekat sekali dengannya.” Dari sini juga mbak Marissa juga makin terdorong untuk memasak. “Mungkin belum menemukan resep yang pas saja. Dulu saya juga tidak bisa memasak. Terdorong untuk bisa ketika masa kuliah di Sydney, Australia mengingat biaya hidup di sana tidaklah murah. Hidangan pertama yang saya bisa masak adalah chicken curry ala Jepang. Simple saja, tinggal beli bumbunya masukkan wortel, kentang, jadi dan enak,” bangganya.

Sekarang, wanita yang mengaku tidak memiliki pembantu di rumahnya tersebut sudah bisa memasak segalanya, termasuk masakan Indonesia seperti soto kudus, soto tangkar, dan sebagainya. “Memang, tantangan untuk masakan Indonesia harus pintar mengolah bumbu. Kalau makanan luar negeri mungkin lebih mengandalkan merica dan garam. Walau itu saja sudah enak, tetap beda kepuasannyanya jika kita sudah bisa membuat memasakan Indonesia dengan rasa yang mantap.

Selain itu bagi Marissa, merupakan sebuah pencapaian tersendiri bila berhasil memasak sesederhana apapun, tetapi dapat dinikmati oleh orang yang kita sayangi. Suami saya termasuk pemakan segalanya, dan dia tidak pernah complain dengan apapun yang saya masak,” terang wanita berdarah campuran Cina dan Minang namun tidak menyukai masakan padang ini.

Di sela perkuliahan, terutama di masa liburan, Marissa selalu kembali ke tanah air. Bahkan suatu waktu, ia sempat mengisi waktu selama 3 bulan dengan magang di majalah Indonesia Tatler (PT. Mobiliari Stephindo) dari akhir tahun 2006 hingga awal 2007. Dari sanalah, kecintaan Marissa pada dunia jurnalistik semakin bertambah. Setelah menyelesaikan S2 dan kembali ke Indonesia, Marissa sempat kembali ke Indonesia Tatler sebagai kontributor, hingga akhirnya pintu peluang bekerja di televisi terbuka untuknya.

Marissa berkiprah di Metro TV sejak bulan Januari 2008 dengan terlebih dahulu menjadi reporter di lapangan yang dia jalani selama 3 tahun. Namun awalnya, ia sempat menderita tifus hingga dua kali akibat shift kerja yang menjungkirbalikkan jam biologisnya. “Begitulah saya, ketika sudah terjun di satu bidang, never give up, no matter how hard, just keep trying,” tegasnya. Sebelumnya, ia sempat menjadi wartawan cetak di Media Indonesia di tahun yang sama, namun tidak lama sebelum akhirnya menjadi wartawati Metro TV.

Dan, “Enggak nyangka, ternyata saat di Metro TV, saya bisa baik-baik saja bekerja di lapangan. Saya bisa melewati itu semua. Mulai masuk di Metro tahun 2008 dan selama 3 tahun saya menjadi reporter dulu,” jelasnya. Ia pun terlanjur jatuh cinta dengan dunia barunya. Dan, awal Mei 2011, dia dipilih oleh Canale France International untuk meliput Cannes Film Festival di Paris, Perancis bersama para jurnalis lainnya dari seluruh dunia selama dua minggu setelah melalui proses yang penuh persaingan. Pekerjaan Marissa selama disana yaitu memproduksi, menulis, membawakan, dan mengedit 11 laporan berita selama 11 hari. Pada Februari 2012, dia juga meliput Berlin International Film Festival di Berlin, Jerman. Yang dilakukan Marissa disana yaitu memproduksi, menulis, membawain, dan mengedit 14 laporan berita selama 10 hari.

Nah, Marissa mulai dikenal luas setelah memandu 8-11 Show bersama Tommy Tjokro (sekarang di Bloomberg TV Indonesia) dan Prabu Revolusi (sekarang di RTV). “Saya baru menjadi presenter full everyday itu di November 2010. Sebelumnya saya anchor di Metro Pagi dan Headline News . Di 8-11 Show , yang menarik adalah kemampuan improvisasi harus jalan terus. Walaupun ada hal-hal yang tak terduga terjadi, dan berhubung itu live, ya, sudah, itu natural.” Nah, sampai-sampai ketika dia masih di 8-11 Show, konsentrasinya bener-bener difokusin ke nih acara karena butuh ide segar setiap harinya. Selain itu, di Metro TV dia juga pernah mandu Metro Siang, Indonesia Now, dan program-program lainnya. Dari sinilah dia banyak dapet pengalaman dalam proses pembuatan berita. Dia juga memproduseri beberapa program berita di sana. Oiya, sejak 2010 sampe 2012, dia juga pernah menjadi kolumnis soal film di media online lokal di Sumatera Utara, Waspada Online, dimana dia menulis pembahasan soal film.

Sejak bulan Mei 2013, Marissa pindah dari Metro TV dan menjadi pembawa acara Indonesia Morning Show, 1 Indonesia, serta acara berita lainnya di stasiun televisi swasta NET.. Di IMS, dia membawakan program berita pagi ini dengan Adrian Maulana dan Shahnaz Soehartono. Sedangkan di 1 Indonesia,  program ini formatnya agak mirip dengan Aiman dan... yang dipandu Aiman Witjaksono di Kompas TV, yaitu wawancara-wawancara lebih dekat sama tokoh-tokoh populer di Indonesia seperti mantan ibu negara Ani Yudhoyono, Presiden Jokowi, Wakil Presiden Jusuf Kalla, mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan, dan beberapa waktu lalu juga ada fotografer Darwis Triadi, mantan binaragawan Ade Rai, dan penulis Dewi Lestari. Selain mejadi anchor senior di NET., Marissa juga sempat menjadi produser senior dan head of talent development dimana salah satu tugas Marissa yaitu melatih news presenter NET. lain sampe Mei 2014, ketika sejak bulan itu juga dia hanya menjadi anchor senior (mungkin karena mulai sibuk di dunia perfilman). Dia juga pernah memandu berita di NET. 10, NET. 12, dan NET. 17 serta program berita khusus (misalnye pelantikan Presiden Jokowi, terus quick count Pilpres, dan lainnya) dan pernah juga memandu Gebyar BCA (setelah acara ini pindah ke NET.) Hadir hampir setiap pagi di layar kaca (baik selama masih di 8-11 Show maupun sekarang di IMS) serta di program-program lainnya, wajah cantik, kecerdasan, keenerjikan, dan tawanya langsung menyita perhatian penonton. Senyum manis tak pernah lepas dari bibir mungilnya.

Seperti halnya memasak yang butuh banyak improvisasi, Marissa mengaku bahwa sehari-harinya juga tidak terlepas dari tuntutan improvisasi. Terlebih dalam hal pekerjannya sebagai presenter sekaligus jurnalis ketika menghadapi situasi sulit di lapangan.

Dalam hal ini, Marissa mengaku beruntung karena latar belakang kecintannya pada dunia theater sangat banyak membantunya. “Sering saya mengikuti workshop di mana saya hanya diberi satu kata kunci, kemudian saya diminta untuk mengarang sendiri ceritanya. Inilah yang membuat saya terbiasa menghadapi situasi-situasi tak terduga,” terang presenter cantik ini.

Terlepas dari itu, Marissa sangat percaya bahwa sesungguhnya hidup itu sudah ada jalannya. “Makanya prinsip hidup saya adalah ‘fifty-fifty’.  Setengahnya adalah ketentuan Yang Maha Kuasa, sisanyaa barulah diri sendiri. Jadi Yang Maha Kuasa membukakan jalan, atau memberi pancing, kitalah yang memaksimalkannya,” ungkapnya.

Dalam segala apa yang dilakukannya, termasuk urusan pekerjaan, Marissa mengaku selalu didukung penuh oleh keluarganya, terutama sang suami. Ya, Marissa pada tahun 2009 lalu melangsungkan pernikahannya pada usia yang ke 26 tahun dengan seorang pria berkebangsaan Australia, Andrew Trigg. Suaminya sangat memberikan support yang begitu besar terhadap kariernya. “Saat pacaran saja dia sangat mengerti saya, apalagi sekarang. Saya bahagia dengannya,” tuturnya singkat. Dukungan dari keluarga memang yang terpenting bagi Marissa, apalagi, dalam menjalankan tugas, ia kerap kali harus meninggalkan rumah dalam jangka waktu yang tidak sebentar.


Namun, apa yang terjadi sebelum Marissa akhirnya menikah dengan Andrew?

Trauma pada sebuah pengalaman pahit sempat membuat hatinya hancur berkeping-keping dan menjadikannya pribadi yang sulit. “Saya dulu sangat emosional.  Ada masa ketika saya tidak percaya orang dengan mudah. Sampai-sampai,  ketika saya berusia 20 tahunan, saya ingin tidak menikah. Kalaupun harus punya anak, mungkin di usia 30-an, entah itu dengan mengadopsi atau pergi  bank sperma,” kenangnya.

Keajaiban Tuhanlah yang Marissa rasakan dengan didatangkannya sosok pria yang kemudian mengubah segalanya, yang kini menjadi pendamping setianya (baca: Andrew Trigg). “It’s wonderful to find someone who fight for you, no matter how unperfect you are. Memang tidak ada seorangpun yang sempurna, tetapi saya benar-benar jauh dari sempurna. Ternyata dia bertahan, dan mau menerima kekurangan saya. Walau saya begitu cepat marah, intinya saya adalah orang yang baik. Itu menurutnya. Saya begitu terpukau bertemu dengan seseorang yang bisa menerima kekurangan saya. Ketika Anda menemukan seseorang yang mau berjuang untuk diri Anda, itulah orang yang tepat untuk dijadikan pasangan. Banyak orang yang mudah menyerah, itu hal yang wajar, dan itu adalah hak mereka untuk menyerah. Namun jika ada yang tidak mau menyerah, itulah orang yang mengagumkan.”

Marissa mengaku bahwa sangat tidak mudah menjadi orang yang bermasalah dengan kepercayaan. Belajar mencintai lagi adalah hal yang berbeda dibandingkan belajar mempercayai lagi. Bagaimana bisa Anda mencintai lagi jika untuk percaya saja Anda sulit. Jadi, tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menyembuhkan dulu luka tersebut, yang tentunya butuh proses dan waktu.

“Hingga sekarang, saya merasa bersyukur karena memiliki pasangan yang luar biasa dan keluarga tidak menekan saya untuk menjadi apa. Mereka tidak pernah melarang saya melakukan apapun. Yang penting saya serius dan menjalankan semuanya dengan senang hati.”

Pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman juga yang membuat seorang wanita tahu apa yang membuat dirinya pantas untuk memilih pria seperti apa yang layak mendapat label terbaik. Bagi Marissa, pria yang pantas untuk dijadikan pasangan adalah:

•    Terhubung.
 Buatnya, pria akan terlihat mengagumkan ketika bisa menjadi teman berbicara yang nyambung di segala hal. Mungkin tidak harus mendalami, tetapi bisa membuat topik pembicaraan apapun teranya menarik.
•    Baik hati. 
Bukan berarti pria tidak boleh marah sama sekali. Tentu akan ada hal yang tidak disetujui dan memicu perselisihan. Itu normal. Yang penting adalah dia punya hati yang tidak bisa menyakiti orang lain. Saya akan merasa aman menjadi pasangannya.
    Tidak pernah complain, apalagi terkait dengan mengkotak-kotakkan peran pria dan wanita. Pria harus mau berbagi tugas dalam urusan bersih-bersih rumah, bahkan untuk pekerjaan mencuci piring, menyapu, dan sebagainya.
•    Humoris. Ini sangat penting. Pria itu harus lucu. Bisa membuat saya tertawa setiap saat, menertawakan apa yang saya tertawakan. Itu adalah yang membuat kita sehat. Orang yang mudah tertawa itu bisanya berumur lebih panjang.

Nah, Marissa menunda untuk menunda momongan, padahal sudah enam tahun menikah. “Aku emang belum mau punya anak dulu,” kata Marissa, yang sudah menikah lima tahun itu, saat ditemui di Kebon Jeruk, Jakarta oleh Tempo.co. Kesibukannya yang padat membuatnya takut menjadi ibu yang tidak bisa melihat perkembangan anaknya. “I don’t want to be a bad mother,” katanya langsung.

Istri Andrew Trigg ini mengaku cukup sedih melihat pengalaman teman-temannya yang lebih sering menitipkan si anak kepada neneknya sementara pasangan itu kerja mencari uang. “Anaknya bisa tanya, kenapa dulu gue dikasih ke nenek. Aku kebayang aja kalo aku digituin sama anakku, i will feel so sad, and heartbroken,” katanya memberikan alasan ia belum siap untuk menjadi seorang ibu. Dalam wawancaranya dalam program Entertainment News di NET. ketika menghadiri premiere film pertamanya, Selamat Pagi Malam, ia juga pernah mengutarakan kalau ia tak mau menitipkan anaknya kelak kepada nanny (pengasuh).

Walau mengaku belum siap, wanita yang ingin punya anak paling banyak dua orang ini menargetkan akan punya anak pada umur maksimal 35 tahun. “I will be ready. One day. Not now. Paling lama umur 35 tahun aku mau udah punya,” kata lulusan sastra Inggris Universitas Atma Jaya ini.

Marissa mengaku tidak berminat sama sekali terjun ke dunia politik. Dia tak pernah bercita-cita menjadi seorang politikus. “Nggak pernah kepikiran sama sekali,” katanya ketika dihubungi Tempo, Rabu, 9 Oktober 2013. “Blas, I never want to be a politician.”

Marissa menganggap seorang politikus memiliki pekerjaan sangat sulit. “Haduh, politisi itu medannya sulit sekali,” kata dia, walaupun Marissa mengaku setuju dengan dinasti politik yang katanya sedang trend ini. “Saya sebenarnya nggak ada masalah sama dinasti politik selama dia mementingkan rakyat banyak.”

Ia akan memilih seorang politikus yang selalu memilih yang terbaik untuk rakyatnya. “Kalau bagus ke depannya, i would go for him,” katanya. Namun apakah ada keinginan terjun ke dunia politik, Marissa langsung menukas, “Nggak ah. Mending di media aja. Jadi bisa ngingetin para politikus itu.”



Marissa juga mencintai dunia teater, bahkan jauh sebelum ia menjadi seorang jurnalis ia telah menjadi pemain teater sejak tahun 2005. Ia biasa tampil dalam drama yang berbahasa Inggris bersama dengan komunitas teater ekspatriat berbasis amal di Jakarta, yaitu Jakarta Player. Pada bulan Mei 2013, Marissa kembali ke panggung teater dan menjadi pemeran utama sebagai Padusi dalam pementasan tarian Legendra Padusi, hasil karya maestro tari Tom Ibnur yang mengangkat kisah legenda perempuan (padusi) Minangkabau.

Ketika ditanya apa perbedaan signifikan drama Indonesia dibandingkan drama berbahasa Inggris, perempuan molek keturunan Minang, Cina dan Jawa ini menunjuk dua hal: bahasa tubuh dan kecepatan berbahasa.

“Di sini pelafalan bahasa cenderung lebih pelan dan lebih besar gerakannya,” kata Marissa. Meski begitu, dia mengaku menikmati belajar teater Indonesia.”Sebagai orang Indonesia, saya senang belajar teater Indonesia,” katanya dalam sebuah wawancara dengan Tempo.co awal Mei 2013 lalu, saat drama Legendra Padusi baru diluncurkan.

Marissa secara khusus mengaku kagum pada tim produksi ‘Legendra Padusi’. “Semuanya berkontribusi. Ini  seperti membuat lukisan abstrak tapi hasilnya bagus banget,” katanya antusias. Ke depan, Marissa ingin lebih banyak tampil di atas panggung teater.

"Kakekku katanya dulu juga pemain teater," ujar Marissa menceritakan asal-usul darah seni perannya itu ketika diwawancarai oleh Tempo.co November 2014 lalu.
Dalam karirnya baik sebagai aktris, presenter, maupun pemain teater, ia lebih ekspresif. Padahal anehnya, saat masih kecil ia lebih dikenal sebagai anak yang pendiam dan penakut. Tak seekspresif sekarang. Sebab, seperti kebanyakan orang tua di Indonesia, Marissa selalu ditegur dengan kata 'jangan' setiap kali akan melakukan sesuatu. "Anak Asia kan kebanyakan ditekan. Jangan inilah, jangan itulah, makanya jadi pemalu," katanya. Tapi, saat ini, Marissa lebih dikenal sebagai wanita yang aktif, ekspresif, dan semangat. Mungkin karena pengaruh teater dan pekerjaannya sebagai presenter, ya bukan?

Karya yang melibatkan beberapa nama besar, seperti Nia Dinata sebagai penulis naskah, Ine Febriyanti, Jajang C. Noer, Niniek L. Karim, dan Arswendy Nasution, serta 50 penari dan musisi yang disutradarai Rama Soeprapto itu kemudian dipentaskan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Marissa memulai debut pertama dalam dunia perfilman dalam film Selamat Pagi, Malam yang rilis pada Juni 2014 lalu. Dalam film yang mengangkat sisi lain kehidupan kota Jakarta ini, Marissa berperan sebagai Naomi yang merupakan seorang lesbian yang dirundung dilema dalam kehidupannya dan sahabat kental dari peran yang diperankan oleh Adinia Wirasti. Berkat aktingnya yang sangat mendalam, ia pun masuk nominasi Pemeran Wanita Pembantu Terpuji dalam Festival Film Bandung tahun 2014, walaupun tidak memenangkannya.


Pada April 2014, Marissa bergabung dalam sebuah produksi film feature yang diproduksi oleh Oreima Pictures dan disutradarai oleh Rako Prijanto, berjudul 3 Nafas Likas. Di film ini, Marissa bermain bersama Atiqah Hasiholan, Vino G. Bastian, Tutie Kirana, Tissa Biani, Jajang C Noer, dan Mario Irwinsyah. Syuting dilaksanakan mulai 26 April 2014 dan berseting di Sumatera Utara, Jakarta dan Ottawa, Kanada. Dalam film ini, ia diceritakan sebagai seorang penulis. Tokoh yang ia perankan diceritakan sedang melakukan riset pada sosok Likas, istri dari Djamin Ginting. Peran Marissa dalam film tersebut sangat dekat dengan profesinya sehari-hari. Oleh karenanya ia mengaku tak mendapat kesulitan sedikit pun untuk mendalami karakternya.

"Ngerasa deja vu ya, tapi bikin syuting lebih ringan karena banyak ngobrol sama orang yang lebih pengalaman juga," ungkapnya saat ditemui di kawasan Setia Budi, Jakarta oleh Clear.co.id, beberapa waktu lalu. Film ini telah rilis September 2014.

Marissa berpendapat dunia jurnalistik yang dia geluti selama ini dengan seni peran yang baru dirambanya mempunyai kesamaan. Oleh karena itu, Marissa ingin tetap bisa fokus di dua dunia tersebut.

“Dunia wartawan dan seni peran seperti kaki saya. Kalo yang satu nggak ada, saya ngerasa nggak nyaman. Saya nggak bisa kalo disuruh milih, karena intiya adalah performance. Apakah membawakan berita atau pun membawakan cerita intinya membawakan sebuah pesan,” ujar Marissa saat ditemui di Press Screening Selamat Pagi, Malam di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa, 17 Juni 2014, seperti dikutip dari Babel News edisi 19 Juni 2014.

“Saya sudah 9 tahun main di teater dan akhirnya masuk ke dunia film. Masuk ke film nggak terlalu banyak penyesuaian karena sebelumnya saya sudah main di teater,” lanjutnya.

Marissa juga tidak menutup kemungkinan akan mengambil peran dalam film-film berikutnya. Yang terpenting baginya adalah nyaman dan suka pada cerita yang ia perankan. “Saya go with the flow aja, ketika dikasih rejeki sama Tuhan untuk terlibat dalam seuah film, kenapa tidak? Ketika kesempatan datang ya ambil aja, ketika kita suka sama ceritanya kenapa nggak,” tutur Marissa.

Dalam meniti karirnya sebagai aktris, ternyata Marissa cukup selektif dalam memilih tawaran. Seperti apa peran-peran yang ia inginkan?

Mengenai peran yang diinginkan, Marissa mengaku tidak punya kriteria khusus. Namun, Marissa mengutamakan peran-peran yang otentik, yaitu sosok yang dekat dengan kenyataan sehingga nantinya pesan yang ingin disampaikan bisa diterima dengan baik oleh masyarakat. “Jujur saya belum kepikiran pengen target peran apa, tapi saya akan terus ngejar peran yang otentik (tidak terlalu jauh dari realita). Saya suka film yang ceritanya mudah dikonsmsi tapi sebenernya dalem,” tandasnya.

Peran otentik tersebut, seperti perannya sebagai penulis dalam film 3 Nafas Likas yang dekat dengan profesinya sehari-hari sebagai anchor. Ia yakin peran yang demikian bisa lebih menjangkau penonton. "Lebih suka dengan peran-peran otentik, bukan over puitis karena bikin penonton susah nyambungnya. Rasanya terlalu besar, jauh dari realita," papar Marissa.

SELESAI.

Sumber: Dari berbagai sumber, terutama http://id.wikipedia.org/wiki/Marissa_Anita dan sumber lainnya.

#AnchorMeme: Sebuah Aksi Nekat



Allow semuaaaa!!! *teriak dari lantai atas Monas*
Met tahun baru 2015 yaks! Semoga kita bisa go better than last year yaks! Bisa lebih baek! Yang punya resolusi, usaha yaks biar resolusinye terwujud. Jangan kayak gue, resolusi awal tahun 2014 lalu aja masih blokotok nasibnye. Hehe. :D
Ngomong-ngomong, gue mau cerita nih. Ijin cerita basa-basi boleh kaaann?
Naahh, belakangan gue rajin bikin meme. Meme apaan? Yaks, gambar-gambar lucu yang gue bikin ini banyakan soal news anchor pemirsa! Yayayayay, berhubung gue itu maniak news anchor tingkat bingits, mangga dari itu gue bikin meme tentang news anchor! Banyakan sih, di Twitter, hehe cek aja yaks di @justvanda_08 #janganterlaludistalk #bahayalatenkalodicekfavorit atau gak ikutin terus nih  postingan untuk info lebih lanjut, soalnya ada meme yang sengaja kagak diposting di Twitter tapi diposting di blog plus memuat sejarah meme-meme news anchor buatan gue, heheheu!
Dann, meme tentang anchor pertama gue itu keinspirasi dari kejadian waktu teh Tina Talisa akhirnya hengkang dari dunia jurnalistik. Yaks, yang dulu hobi mantengin Apa Kabar Indonesia di TV One pasti tau dengan sosok emak-emak kece ini. Yaks, teh Tina yang terakhir kerja di Indosiar dan ngawalin karir di Trans TV ini beberapa bulan lalu akhirnya mundur dari dunia jurnalistik pemirsah :’( Yahh agak sayang banget sih sebenernya, soalnya walaupun gue jarang-jarang liat teteh Tina ini, gue liat teh Tina itu smart banget. Nguasain banget soal urusan-urusan yang jadi topik pembicaraannye. Inspire! Makanya waktu dia ngabarin soal resign atau dalem bahasa ngidol jeketinye ntuh berarti graduate/grad-nye die di twitternye (@Tina_Talisa),  gue langsung pengen nyanyi-nyanyi Sakitnya tuh Disini-nye Cita Citata sambil goyang Dumang ala Audi Marissa Nom Nom Gowes di puncak tiang tower operator seluler! #halahekstrimamat Tapi aku rapopo, soalnye ternyata dia mau resign karena pengen full-time ngurusin keluarganye. Yahh, memang keluarga itu lebih berharga dari apapun yaks. I love my family, aaaa!! J
Kembali ke meme, karena itulah sampe nongol foto-foto yang diposting sama teh Tina di Twitter (juga ada ntuh poto sejenis yang nongol di Instagramnye mbak Utrich Farzah) yang isinye farewell partynye teh Tina. Ada foto makan berjamaah sama semua jajaran redaksi Fokus termasuk pemrednye kang Nurjaman Mochtar dan anchor-anchor Fokus lain, ada kak Jemmy, bang Zoel, kak Cinta, tante Utrich, mas Ryan, bahh rame! Ada juga foto kedua yaitu foto farewell sama anchor-anchor Fokus yang gue udah sebutin namanye tadi. Ya udah, gak pikir panjang lagi gue langsung kepikiran bikin meme tentang hal ini. Langsung aje download foto SpongeBob dari mbah Google, waktu dia nyanyi-nyanyi di episode Ripped Pants (ntuh, yang celana SpongeBob robek di pantai ntuh) sama waktu dia mau nangis sampe matanye sembab segala sambil masak Krabby Patty, plus potonye si Cita Citata waktu di video klipnye Sakitnya Tuh Disini juga langsung dari Googlenye! Yaudah, nih hasilnye!

Udah gilak ya, momen perpisahan kok dijadiin meme seeh?
Spontan aje gak butuh waktu lama buat gue ngedit tuh foto-foto di Photoscape laptop. Nahloh, gak butuh waktu lama juga buat ngeposting tuh foto di Twitter. PERTINYIINYI #tukulbingits: Nape lo kagak posting di Instagram? Soalnye yaks, gue belom punya Instagram. Waktu gue niatan download di Play Store ternyata kagak cocok, soalnye Andro gue Gingerbread pemirsa. Mana bikin Instagram lewat PC error mulu lagi, sakitnya tuh disini di dalam palaku, aduuh #cekatcekotseeh! Udah gitu, di Twitter juga lebih enak sih, hehe. Dan gak butuh waktu lama juga buat dapet reaksi dari...YBS!! Yang Bersangkutan! Teh Tina Talisa!
Spontan aje gue cuma bisa nampakkin muka-muka gak percaya gara-gara rituwitnye teh Tina soal meme gue ntuh. Dan, gilanye lagi, gue malah jadi kebanjiran mention, favorit, dan ritwit dari fans teh Tina yang lain walau kagak seberapa. Tapi mungkin mereka niatannye mau ngereply rituwitnye teh Tina sih, hehe. Spontan, gak butuh waktu lama juga buat dapet reply foto gue dari temen sesama fans news presenter. Namenye mbak Erya, dia ntuh sekolah di sebuah SMA di Jogjakarta dan bentar lagi mau UN! #ganbattembakErya Doi bilang lucu banget, sampe segitunya, tapi biar begitu teh Tina tetep inspirasi kita semua! Dan, dia jadi pengen gue bikin meme gambar teh Tina waktu training presenter di sebuah kampus di Jogja beberapa tahun lalu, plus meme bang Iqbal Kurniadi! Ntuh si imut yang Reportase Sore di Trans TV!
Spontan aje gue langsung kepacu dalam melodi buat bikin meme anchor lagi! Tapi gue mohon maaf segede-gedenye buat mbak Erya, soalnye meme soal teh Tina lagi training di Jogja ntuh belum ada L Tapi, soal bang Iqbal, tenang! Ada! Langsung gue bikin. Kepikiran setelah keinget mantan pacar gue yang gak gue anggep (baca juga yaks posting tentang CJR di nih blog #halahpromosiposting), Iqbaal CJR. Ya udah, gue cari ekspresi muka si Iqbaal di mbah Google, ekspresi seneng dan gusar. Yahh gue soalnya udah kagak punya koleksi fotonye si Iqbaal lagi, sejak gue mutusin pensiun jadi Comate dan Soniq alias fansnye Iqbaal! Makanya gue cari baru! Toh juga kalo seandainya koleksi fotonye si Iqbaal masih ada, fotonye udah butut semua jaman awal karir! Terus nyari foto bang Iqbal Kurniadi, tapi pemirsa ternyata foto di mbah Google foto butut semua! Jaman awal karir! Malahan ada foto yang OOT: maunye nyari foto bang Iqbal nongolnye foto mas Ryan jaman masih di Reportase, atau bahkan anchor tipi laen. So, gue nyari foto-foto bang Iqbal yang baru nih, dan nongol juga waktu dia siaran sama kakak kece Nawayogi Kusuma! Ada juga capture foto SpongeBob yang gue comot dari video editan Goyang Morena Syahrini dan Munarohnye Trio Ubur-Ubur yang udah gue download sejak sebelum negara api menyerang #aang, plus foto donlotan SpongeBob yang gue dapetin gretong dari mbah Google Images! Yaudah, buka Photoscape lagee, bikin collage dulu, tapi ada satu hal yang pengen gue sampain sekarang: mohon maaf banget yaks buat mbak Nawayogi Kusuma, gambar kak Nawa kepaksa dicrop demi nih meme, padahal sayang banget kak Nawa kece banget! :’( #agaknyesel Tapi aku rapopo! Sing penting memenye jadi dan akhirnya diaplot ke Twitter! Ini dia nih barang matengnye:

Hahaha, geer gak tuh si Iqbaal CJR dibuat salting sama si SpongeBob? Heheheu, dan lagi-lagi, hal ini bikin ada anchor yang ngomen lagi postingan twitter gue soal ini! Tentu aje anchor yang ngomen tersebut yaitu yang gue singgung dalam meme itu, yaitu bang Iqbal! Bang Iqbal make smiley ngakak waktu itu! Kagak cuma itu! Gue lagi-lagi dikomen sama mbak Erya, katanya fotonye lucu dan waktu dia tauk kalo bang Iqbal ngasih tanggepan gila soal tuh meme, dia juga ikut komeng gini, “Kak Iqbal Kurniadi seneng tuh dek, hehe”. Eeeits, dan ada juga yang ngeritwit, dan ternyata ada juga fans anchor lain yang ternyata, temennye mbak Erya juga, temen twitter. Namanye kak Citra. Tinggal di Bekasi *tapi gak usah dibully ya mentang-mentang tinggal di Bekasi! Ngapain juga ngebully Bekasi, kayak ga ada kerjaan! Alaynye -_-“* Usianya 20 tahun, dan selain dia ngefans dengan dunia peranchoran, ternyata dia fangirl jekeiti fourtyeight! Oy oy oy! #ngidol CUMAN, gue gak tau siapa oshinya die, apa dia punya oshi dari tim J, tim KII, atau gen 3, atau dia daredemo daisuki? Suka semua member dan grupnye tapi ga punya oshi? Entahlah! #gayasilet Nah, mbak Citra ini sampe ngomen, “Bisa aja lo!!” dengan smiley ngakak (lagi). Hehe.
Oiyaks, mbak Erya juga pengen banget gue bikin meme tentang performnye news anchor Fokus Indosiar waktu joget I Like Dangdut Challenge di D’ T3rong Show, 13 November 2014 kemaren. Nahloh, waktu itu ada mas Ryan *leader goyang paling gokil bin gila saat itu*, mbak Utrich yang tau-tau ga kalah rempongtase #halah, bang Zoel, kak Jemmy, dan kak Cinta. Nih videonye yaks guys:
Blash, sekedar ngasih tau nih soal I Like Dangdut Challenge *buat yang gak tau ya*, I Like Dangdut Challenge adalah program amal ala-ala Ice Bucket Challenge yang dilakukan oleh Indosiar dan SCTV yang dilakuin dengan cara saling nantang goyang dangdut. Jika nerima tantangan goyang, wajib nyumbang minimal 50 rebu, dan jika nolak, nyumbang minimal 500 rebu. Nyumbangnye demi perbaikan sekolah-sekolah di Indonesia! Abis itu nantang 3 orang.
Nahh, gue bikin tiga meme soal ini, pertama soal kemiripan Nassar #lakinyamusdalifah dan mas Ryan. HAH? MIRIP? Yaks! Dari dulu gue rasa ada yang mirip dengan Nassar dan mas Ryan. Mukanya yaks, bukan kelakuannya, heheheu! Bedanye, kalo Nassar pipinye lebih berisi, maka mas Ryan, iya dulu chubby kayak bakpao siap dilumat sekejap #jadikangendiayangdulunyachubby, tapi sejak mas Ryan jadi rajin fitness, chubbynya ngurang. Itu juga chubbynya terlalu unyu buat dimiripin sama Nassar! Dan hal ini yang dulu pernah diobrolin sama temen-temen fans mas Ryan di pesbuk. Dalam episode ntuh, ternyata si Nassar yang kebetulan ngehost tamu di D’ T3rong pertama bilang kalo dia ngefans sama kak Ryan. Nahh, tiba-tiba mbak Utrich dan yang lainnya langsung memirip-miripkan Nassar dan kak Ryan. Bahkan kata mbak Utrich, mereka udah mirip dari dulu! Sontak aje mereka berdua langsung dipoto sama kak Jemmy dan kata si Nassar yaks, dia suka kak Ryan gara-gara pembawaannya itu, dan kak Ryan juga ngaku bisa nyanyi ala-ala Nassar! Tapi sayang kagak nyanyi ala Nassar!
Nah, nih memenye:

Hal ini bikin kami jadi ngobrol basa basi soal meme dan perbedaan dibalik ‘hubungan saudara kembar’ mereka. Basa sana basa sini bara bara bere bere boro boro buru buru. Beda takdir lah, beda emak beda bapak lah *ya iyalah*, beda latar belakang, beda ini beda itu, halamak!!!!
Untuk meme keduanye, gue bikin tentang kak Nurul Cinta. Nahh, sekilas gue deskripsiin soal kak Cinta ini. Doi itu news presenter iconic program kriminal kayak Patroli sama Halo Polisi pemirsa, buat gantiin kak Fristian Humalanggi (sekarang Fristian Griec) yang pindah ke RTV. Sebelumnya sih juga ada kak Diaz Kaslina yang dulu Kabar Malam di TV One ntuuh, tapi baru bentar pindah ke Indosiar tau-tau ngilang dan sekarang pindah ke Beritasatu #hiksgabisanontonkakdiaz #maklumgapunyachannelberitasatu. Dia ini dulunya konon jadi reporter TV One pemirsa (gak percaya? Liat blognya kak Fanny Imaniar yang sekarang di TV One disini: linknye). Dia lalu pindah ke Indosiar buat jadi reporter yang kemudian naik pangkat jadi presenter. Pemilik nama asli Ummi Nurul Cinta ini orangnye agak pendiam dan kalem pemirsa. Gak terlalu banyak inponye di internet, dan liat twitternye yaks di @nurulcinta_ buat kenal lebih deket. Nahh, lo masih inget kan demam mini dramanya AADC (Ada Apa dengan Cinta) 2014, dimana Rangga ketemu Cinta*cinta yang sekarang gue singgung itu yang diperanin Dian Sastro yaks!* lagi abis 12 tahun kepisah, dan jadi video kedua ditonton di Yutub se-Indonesia! Nahh, gue nekat bikin seolah-olah si Rangga kepincut sama kak Nurul Cinta sehingga Cinta yang asli jadi cemburuan #walah! Nih dia!

Meme ketiga gue bahas nanti yaks pemirsa! Bikinnye juga belakangan!
Nahh, abis itu gue mulai lebarkan sayap jadiin anchor TV lain sebagai bahan meme. Kali ini korbannye om Adrian Maulana-nya IMS NET. pemirsa! Semua berawal dari ketika sebelum sekolah waktu lagi sarapan, gue sambilan nonton IMS di NET., dan ada om Adrian yang dengan kocaknye ngebawain berita peristiwa-peristiwa unik hasil liputan warga lewat citizen journalism-nye NET.! Kan ada berita soal sapi gitu. Nahh, om Adrian abis baca berita sapi langsung bikin tebakan yang gue lupa pertanyaannya tapi jawabannya itu, “sapiring sekeluarga”! Hahaha! Gue dan bokap yang lagi nonton IMS langsung ngakak-ngikik tanpa ketulungan gara-gara bengong gak bisa jawab. Gak pake pikir panjang pulang sekolah gue donlot lagi foto SpongeBob dari mbah Google yang ekspresinye kayak mau nanya sesuatu gitu *gambarnya diambil dari episode Club SpongeBob yang puja kerang ajaib itu!* dan tiga biji foto om Adrian dari Twitter. Perama waktu om Adrian bawain berita lalu lintas dari Waze di IMS, kedua foto om Adrian yang kayaknya foto lama (sebelom om Adrian menunaikan ibadah haji beberapa waktu lalu, rambutnya aja gak kayak sekarang) tapi kayaknya nih diambil waktu om Adrian udah jadi host IMS (gue ambil dari akun talent managementnye NET. kalo gak salah), dan foto pribadi om Adrian waktu ikutan Colour Run di Jakarta sehari sebelum gue tonton host IMS, dan gue bikin meme lagi. Ini dia memenye pemirsa:


Hasilnye, secara mengagetkan om Adrian langsung ngomen gue. Dia ngakak dan bilang kalo meme gue kocak. Dan, dia nanya, “Bikinnya pakai aplikasi apa nih? Di app store ada nggak?”
Nah, gue klarifikasi yaks.
“Ampun om Adrian, gue gak punya BB, mana pernah main App Store? Aku Android om! Aku makenya Photoscape di laptop terus ditransfer ke HP, om. Mana memory card gue cuma dua giga lagi, belom bisa beli SD card yang kapasitasnya lebih gede, jadi belom bisa donlot aplikasi edit foto gitu. SD card aja warisan HP TV adek gue yang udah vakum gara-gara batere ngegembung. Ampun om...”
TERUS, LO MINTA OM ADRIAN BELIIN LO SD CARD KAPASITAS GEDE? ATAU GAK BATERE BARU BUAT NONTON TV DARI HP? BIAR BISA NONTON MAHABHARATA SAMA NAVYA LAGI? GARA-GARA KEMAREN DIACAK DI PARABOLA? SEKALIAN BUAT NONTON ACARA FAVORIT KALO SEANDAINYA MATI LAMPU ATAU APA GITU? SEKALIAN NONTON TV LOKAL? SEKALIAN MINTA SAMA DORAEMON SANA, PAKE KANTONG AJAIB SONO! GRETONGAN TAUK!
Gak gitu juga keleus. Hehe maaf bercanda. #kidding
Nah, meme I Like Dangdut news anchor Indosiar yang ketiga gue bikin setelah memenye om Adrian. Gara-garanya, ada adegan dimana semua anchornya pada goyang ala-ala Trio Macan! Tapi latarnya masih lagu I Like Dangdut gitu. Maka dari itu, gue pun mutusin buat bikin meme kayak gini!

Iwak peyek, iwak peyek, iwak peyek, sego jagung, sampe tuek, kakek nenek... hadeuh gilaks! Dipikir-pikir kenapa kagak sekalian juga yaks Kucing Garong atau apaan gitu hits-hitsnye Trio Macan? Bahh...
Dan, kata mbak Erya, itu goyangnya campuran, yang kalo gue artiin berarti goyangan I Like Dangdut yang dikloning sama goyangan Iwak Peyek! Jadinye demikian.
Dipikir-pikir, apa gak sekalian goyang Dumang aja tuh mereka? Maklum ngehits, hehe.
Gak butuh waktu lama buat dapet ide kembali. Beberapa hari sebelom UAS semester 1 kemaren, gue terbukti dengan sengaja menonton Reportase Pagi dengan news anchor spesial manis tak terlupakan KECE-BADAI-BINGITS-KELEUS huwala humba huahaha, yes he is Budi Adiputro!
Yaks! Si ganteng dan cerdas ini emang so pasti bikin gue kangen ngeliat dia siaran sore. Tau kagak, kalo tahun 2012 kemaren, gue emang paling seneng ngeliat cowok pemilik nama asli Didiet Budi Adiputro ini siaran Reportase Siang atau Sore. Biasanya seeh sama kak Reni Risty jaman belom berhijab sehingga masih jadi presenter berita atau kagak kak Tifanny Raytama jaman belom nikahan dan (palagi!) punya anak. Pokoknya gue yang waktu itu hobi FTV mistis di Trans TV *sekarang males lohh!*, abis nonton gituan biasanya langsung nonton Reportase Siang yang saat itu tayang jam 2 siang, sebelom nonton Sketsa sama Show Imah, dan makin seneng kalo hostnya kak Budi! Lebih afdol lagi kalo abis Show Imah ada Reportase Sore, palagi kalo anchornya doi! Aargh, udah ganteng, imut, babyface *lebih kece lagi kalo pake kacamata!*, cerdas *palagi kalo berita yang dibahas soal politik sama kuliner, hadeuh cocok banget, palagi politik gilak dia cerdas banget, mana dia lulusan Fisipol di Unas Jakarta sono lagi, SMA sejurusan sama gue #IPS, hadeuh*, asyik, bla bla bla! Tapi semua berubah sejak gue kehilangan Trans TV dari parabola gue selama setahun setengah dari jaman Raffi Ahmad kena kasus cathynone awal tahun 2013 kemaren sampe bener lagi akhir bulan puasa 2014 kemaren, dimana selama itu gue cuma sadar dari internet kalo:
1.       Reportase Siang udah bungkus alias tamat.
2.       Kak Reni udah berhijab. Alhamdulillah, semoga tetep istiqomah! Tapi kenapa setelah berhijab udah gak boleh nganchor lagi :’( Tapi yang penting dia nongol di acara alay YKS sama si Vean Arvian, dan gue cuma tau itu dari internet. Yutub. Kalo gitu mah gue bela-belain mantengin tuh acara alay demi liat yang gituan!! *ini mau bahas kak Budi atau kak Reni sih?*
3.       Entah mungkin karena pengaruh poin nomor 1 tadi, Kak Budi jadi jarang siaran sore. Pagi mulu, mana jam tayang Reportase Pagi dimajuin setengah jam, dulu sebelum Trans TV rumah gue rusak kan gue juga rajin liat Reportase Pagi jam setengah 5 dan kelar setengah 6, setelah Transtipi bener lagi sekarang tau-tau Reportase Pagi jam 4 mulainya, kelar jam 5, pagi banget yaks, makanya setelah shalat Subuh gue bela-belain nongkrongin tipi demi segmen terakhir Reportase Pagi! Palagi waktu ending, dia selalu bilang begini, “Jangan lupa sarapan pagi!” Aww banget, tapi kenapa sih nasihatnye kak Budi selalu gue langgar dengan cara sarapan ngaret jelang jam 9 kalo libur? Agak nyesek :’(
Nah, berhubungan dengan poin nomor 3 di atas, maka ekspresi gue ntuh udah kayak menang undian berhadiah 1 unit Ferrarri tauk begitu ngeliat kesempatan dimana kak Budi siaran sore waktu itu! Pemandangan langka tauk kayak ngeliat aer di gurun! Waktu itu kan gue nonton dia lagi nganchor bareng kak Fanny, dan umm, dia seperti biasa: kece dan bikin betah nonton tipi lama-lama sampe Reportase Sore kelar. Seumur-umur sejak Transtipi di rumah bener lagi sampe sekarang, gue udah beberapa kali liat kak Budi di Reportase Sore dan itu masih bisa diitung dengan jari, tepatnya 4 kali! Dan ini bukan kejadian pertama! Kejadian kedua malahan! So, gue abadiin lewat kamera poto dan gue bikinin meme, dengan bantuan gambar SpongeBob yang udah didonlot/dicapture dan pernah dibikin buat meme-meme terdahulu, plus gambar Squidward dari video-video yang udah gue sebutin sebelumnye.  Walhasil, jadilah meme begonoan:

Yaks! Momen kak Budi siaran sore ini bener-bener momen langka. Bener gak?
Abis itu, gue bikin meme lagi. Kali ini korbannye abang angkat gue lagi nih, kak Herjuno Syaputra yang Buletin Indonesia Siang Global TV ntuh. Hal ini keinspirasi dari foto instagramnye bang Juno waktu pameran Indonesian Broadcasting Expo 2014 di Bandung kemaren. Tau gak, ternyata kak Juno foto sama beruangnye Masha & the Bear! Alamaak, berarti kak Juno telah nekat pergi ke booth ANTV, dongs *padahalanchortipilaen*! GAK SEKALIAN FOTO SAMA VIN RANA SAMA LAVANYA BHARDWAJ? Ya gak lah, orang waktu hari terakhir tuh pameran, kak Juno siaran di Jakarta dan di hari yang sama, si Vin sama Lavanya yang juga pemaen Mahabharata favorit gue selain Shaheer Sheikh itu baru ada! Sayangnya fotonya diapus. L Walhasil, gue sebagai fans kak Juno yang selalu ngefans secara adil dan beradab, gue pun jadi kepikiran buat anti mainstream. Biasanya make karakter SpongeBob, sekarang jadi Masha. Gak ada beruangnye. Bikin aje seolah-olah si Masha ngegemarin kak Juno. Foto-foto yang gue dapetin buat nih meme yaitu fotonye Masha yang gue udah dapet lama dari mbah Google, foto kak Juno dari Twitter, dan foto capture-annya bang Junjun yang ada dalam pidio rekaman gue ini:

Walhasil, tadaaa!! Hasil karya gue dengan bantuan Photoscape.

Alamak, sejak kapan tipi gue bisa kesambung sama remot tipinye Masha? Dan sejak kapan Masha minjem tipi gue? Sejak kapan pula orang Rusia bisa mantengin tipi Indonesia tanpa streaming alias nonton kayak biasa? Pokoknya aya-aya wae atuh!
Entah kenapa ada setan iseng ngerasukin tubuh gue. Pasalnye, gue nekat memirip-miripkan bang Zulfikar Naghi, Cristiano Ronaldo, dan bang Vin Rana. Secara, gue rasain kemiripan mereka. Wajah bang Zoel sama CR7 mirip, dan sama si Vin juga mirip sih, tapi jujur bang Zoel lebih miripan sama CR7! Setiap kali gue liat si Vin di ANTV gue juga ngerasa ada kemiripan dengan bang Zoel! Machonya juga sama! Maka atas dasar itulah gue nekat ngedonlot foto bang Zoel terbaru *lebih tepatnye foto promosi kemeja dari sebuah brand pakaian pria ternama* dari Twitter plus foto Vin dan Ronaldo dari mbah Google, lalu gue bikin meme *posisi badan dan fokus potonye si Ronaldo sih gak mirip sama posisi bang Zoel dan bang Vin! Kejadiannye sih abis UAS kemaren! Nih dia meme paling gilaks yang pernah gue buat waktu itu:

Walhasil, bang Zoel angkat komen. Dia hanya bisa menampilkan ekspresi begini begitu ngeliat mahakarya gue itu:
-___-“
Hahahahaduduh.
Hal ini juga memancing tawa dari make up artistnye Fokus pemirsa. Namanye Tiwie. Dia ngereply ngakak. Hahahahadiduhblokotokwalahwidih!
Gue pun makin rajin bikin meme news anchor yang akhirnye gue beri label hashtag #AnchorMeme. Pemberian hashtag #AnchorMeme di watermark meme buatan gue sebenernye udah gue mulai sejak gambarnye Rangga dan mbak Nurul Cinta, tapi waktu itu masih digabung sama soal meme soal JKT48 sehingga namanye waktu itu #AnchorJKT48Meme, tapi gue akhirnya misahin meme bidang JKT48 dan news anchor jadi #NgidolMeme dan #AnchorMeme. Nahh, kalo #AnchorMeme sendiri, masuk watermark meme ntuh pertama waktu meme sapinya om Adrian. Kagak percaya? Cek lagi yuks di bagian sebelumnya posting ini! Kalo hashtag di tweet deskripsi gambarnye sendiri, gue udah mulai sejak kasus memenye bang Juno sama Masha.
Pengen liat #AnchorMeme gue yang lain? Nah pemirsa, berikut gue jabarin satu-satu meme news anchor gue yang berhasil gue aplot ke Twitter:

Hah? Kaget yaks, kalo ternyata bang Herjuno Syaputra ternyata masih keluarganya Nobita Nobi di serial kartun Doraemon? Terus, sekarang bang Juno mudik ke Jepang dari Jakarta, buat ngunjungin Nobita?
Hehe tenang. Semua deskripsi gue barusan termasuk di meme tadi cuma fiktif belaka. Bang Juno tuh sebenernya blasteran Indo-Canada, buktinya dia dulu pernah nulis di bio Twitternya ntuh sebelum diapus. Dia juga kelahiran Amerika kok! Pokoknya gak ada darah Jepang apapun!
Nih kejadian sebenernye:
Bang Juno lagi ngalor ngidul ke pameran Doraemon yang diadain di Ancol sono. Pamerannye sih seru banget, it’s all about Doraemon! Belom pergi? Tenang, masih ada sampe awal Maret ntar! Udah jualan merchandise official Doraemon dari Jepang sono *termasuk bonekanye, termasuk boneka Doraemon sebelom kupingnye digigit tikus dan warna kuningnye masih ada, gak percaya? Liat sejarahnye Doraemon*, alat-alat ajaib Doraemon kayak baling-baling bambu atau pintu kemana saja, sampe ada miniatur kehidupan Doraemon, Nobita, de el el nye, dari pelaminan Nobita dan Shizuka yang akan menikah di masa depan *kalo diintervensi Doraemon yaks! Kalo nggak malah Nobita yang nikahan sama Jaiko adeknya Giant*, Nobita yang lagi baca-baca di kamar terus ketemu Doraemon, Nobita yang ketemu neneknya di masa lampau lewat bantuan mesin waktu, atau, yang ada di meme, yaks itu sih kehidupan keluarga Nobita termasuk Doraemon di meja makan! Nahh, bang Juno pun sampe poto-poto di beberapa titik strategis buat poto-poto, termasuk di situ terus diaplot di Instagram. Nahh, gue yang kebetulan juga seneng Doraemon pun lalu tertarik bikin meme yang berhubungan dengan bang Juno dan Doraemon ini. Yaudah, gue memein deh, setelah gue pikir celah mana dari tuh poto yang memeable!
Ada juga meme lain yang masih ada hubungannye sama aktivitas bang Juno di pameran Doraemon tadi:

Tak pikir-pikir, ntuh Doraemon atau Buletin Indonesia Siang yaks? RCTI apa Global TV nih? Jangan-jangan, tuh dua acara mau digabungin, atau bahkan stasiun tipinye! Mentang-mentang pemilik tuh dua tipi sama, sama-sama pak HT! Kalo seandainye Doraemon sama BIS digabung, bisa kacau deh. Entar ujung-ujungnye mungkin bang Juno bisa beritain gini, “Seorang bocah kelas 4 SD di Jepang bernama Takeshi Goda alias Giant tega mengeroyok temannya yang bernama Nobita hanya karena Nobita tidak mau meminjamkan komiknya pada Giant. Padahal, Giant selalu tidak mengembalikan komik yang ia pinjam kepada siapapun. Selengkapnya di Buletin Indonesia Siang spesial Doraemon, sesaat lagi.” Hahaduh kacau kapucino cincau!

Mbrush, ide gue soal kak Andro ini gampang aje. Semua berasal dari nama kak Andro yang unik gilaks! Andromeda Mercury! Yaks, nih nama bener-bener rasa antariksa banget! Andromeda adalah nama galaksi, dan Mercury ntuh bahasa Inggris dari salah satu planet di tata surya, yaitu Merkurius! Alamaak... Tapi jujur yaks, selain bang Andro juga ada nama anchor lain yang langka banget. Prabu Revolusi. Pastinya yang kemaren-kemaren hobi nonton doi di Trans TV dan Metro TV sama sekarang di RTV tau kan? Mungkin ada suatu niatan kali dari orang tua atau keluarga kang Prabu buat ngasih nama ini waktu kang Prabu lahir dulu. Apa yahh? Tebak aja sendiri yah.
Kembali ke kak Andro, naah gue pikir nih orang pasti pengen diharepin jadi astronot, tukang bikin roket *bukan roket air atau kertas yaks! Roket betulan!*, atau minimal pakar antariksa di LAPAN atau sekalian NASA sono. TAPI... kesasar jadi jurnalis, pembawa berita, dan moderator. Oiyaks, ternyata reaksi warga Twitter dengan nama kak Andro beragam rupa, guys! Ada yang bilang bagus, tapi ada juga yang ngomen aneh-aneh. Ada yang begitu ngedenger nama kak Andro, langsung bercita-citata pengen ngasih nama anaknye, jangan kaget yaks, Pithecanthropus erectus! Gak gitu juga keleus! Maen ngasih nama manusia purba gitu aje. Brontosaurus kek sekalian, apa gak cinta brontosaurus, ehh itu novel yang diangkat jadi film! Itu Raditya Dika!! Ade juga seorang animelovers yang bilang kalo nama kak Andro tersebut menyiratkan kalo kak Andro masih keturunan Sailormoon sebagai emak dan Saint Seiya sebagai bapak. Wa’idah!
Yaudah, gue andai-andain aje  kalo kak Andro ini lahir dari pasangan suami-istri astronom NASA yang kesesat di Indonesia dan gak bisa pulang ke negara asalnye, terus si istri hamil dan melahirkan kak Andro! Alamaaakkk!!
Tapi jujur, bagus juga seeh nama kak Andro ini. That’s in my opinion yaks!
Oiya, meme kak Andro ini dibikin sebelom meme bang Juno yang entah secara ajaib mendadak jadi bagian dari keluarga Nobita tadi, dan abis meme bang Juno juga yang konon telah berjasa memberikan informasi sesat kepada para pengguna Twitter kalau Doraemon dan Buletin Indonesia Siang bakalan gabung.

“Lagi-lagi bang Juno! Selalu bang Juno yang jadi bahan meme lo, Van!”
Yee, aku rapopolaah. Begono, sudah saatnya gue mutusin buat keripikasi klarifikasi harmonisisasi vickynisasi, heuheu. #mentangmentangsivickyudahkeluarmasuktipi
Jadi begono yaks, tepat sebelom meme kak Iqbal yang bikin si Iqbaal CJR malu kuadrat sama kucing meong meong meong *mode romaria diaktifkan* dan meme-meme laennya yang saat itu ada yang udah dibikin tapi ada yang belom, tapi abis meme graduation, ehh farewell party teh Tina Talisa ntuh, gue bikin tuh meme! Yaks! Soalnye, waktu gue masih awal-awal kenal sama jeketi portieit *sampe sekarang, cuma waktu itu anggep aja gue masih awam sama JKT48, istilah chant mix aja kagak tauk*, gue kan donlot MP3-nye Gingham Check ntuh *don’t try at home! Ilegal nih! Tapi yaahh, karena keadaan, miris...*. Gue lalu muterin lagunye di Windows Media Player, dan ternyata, gambar cover albumnye single yang nongol di WMP agak-agak mirip dengan background BIS yang udah kepake dari 2012 jaman gue baru kenal bang Juno sampe nih posting dimuat! Tapi kayaknya keheranan gue sebenernya udah kerasa sebelum gue donlot tuh MP3. Gue pernah nonton MV-nye Gingham Check di yutub dan Toplist RTV, dan gue rasa kok bar atau kafe tempat JKT48 ngedance Gingham Check agak miripan sama latar BIS? But that’s not plagiarism. Ini seeh cuma kesamaan doang! Embuy! Kan latarnya kan agak miripan. Yaudah, gue capture tuh windownye WMP yang lagi muterin Gingham Check pake Photoscape, terus make gambar bang Juno yang lagi siaran BIS yang udah lama jadi data gue *gak percaya? Liat posting pertama banget yang ada di blog ini!*, dan itu dia hasilnye!

Anyway, lo yang lagi baca nih postingan blokotok ini pada masih inget gak sama 3 poin yang ada kaitannya sama meme kak Budi siaran sore tadi? Nah, poin terakhirnya kan yaitu kak Budi akhirnye cuma sering siaran pagi doang, dan setiap ending siaran Reportase Pagi, si babyface ini suka ngasih wejangan yang, yahh lo tau sendiri kan kadang sayangnya hobi gue langgar kalo libur, yaks! “Jangan lupa sarapan pagi!” Nahh, walaupun gue kadang hobi ngelanggar wejangannye cowok imut ini, tapi tetep aja nasihat yang selalu dikasih kak Budi setiap dia mau kelar siaran di Reportase Pagi ini ngena. Sampe-sampe, gue jadi keinget nasib para cewek-cewek yang dicuekin sama cowoknye *daripada lo, jomblo happiness Van!* dimana sarapan aja kagak diingetin. Tapi kalo terlalu sering diingetin malah berasa L.E.B.A.Y bin O.V.E.R.P.R.O.T.E.C.T.I.V.E #tapibukanberatikakbudibegituyaks! Tapi tetep aja miris nginget mereka yang tak pernah diingetin pacar buat sarapan, sehingga ujung-ujungnye gue saranin mereka pacaran sama kak Budi. Hehe, maaf jangan pada tersinggung nyang ngerasa, gue cuma bercanda a.k.a just kidding, maaf, maaf...
Oiya, ini adalah #AnchorMeme pertama yang gue bikin gak pake gambar anchor yang gue memein, dalem hal ini seeh kak Budi. Pasalnye, gue kagak punya gambar kak Budi yang bukan jepretan gue waktu dia siaran dari tipi, tapi dari internet, terus mana flashdisk gue dipinjem lagi. Udah gitu yaks, mana kalo nyimpen di hape saat itu memori tengah pol lage *gak percaya? Liat aja curhatan gue di bagian yang jelasin meme om Adrian ntuh!*, dan akhirnya gue mutusin buat debut meme tanpa gambar objek meme. Yaudah, gini deh, keliatan doang desain sok kalem, isinye?

Okey! Sekarang gue lagi-lagi bikin meme soal Reportase lagi! Secara, dari program inilah gue bisa jadi seorang news anchor lovers! Yaks, dalam rangka ultahnye Transmedia (Trans TV dan Trans7) 15 Desember 2014 kemaren, pas H-1 alias tanggal 14-nye, tiba-tiba ada acara yang kali ini beneran gabung, gak kayak Doraemon sama BIS tadi! Yahh walaupun gabung cuma sehari seeh. Naah, Insert Pagi saat itu entah kenape kesisipan news anchor Reportase kece kaporit, eeh maaf favorit gue! Kak Fanny dan kak Iqbal! Lahh emangnye kenape bisa kesisipan mereka? Seru ding!
Yaeyalah, Transtipi mau ultah! Jadi begono. Mbak Nadya Mulya dan kak Altaf Vicko selaku host Insert Pagi pagi itu nyusup ke studio Reportase. Dan, mereka berhasil menggarap dua anchor kece itu sehingga jadilah kak Fanny dan kak Iqbal sebagai host Insert gadungan bin dadakan. Tapi sayang seribu sayang, gue kagak nonton. Gara-gara adek gue, adiksi kartun #HIKS.
Tapi aku rapopo, sing penting aku masih dapet info dari tuiternye mbak Erya plus akun fanbase Reportase di @Reportase_Mania. Foto-fotonye juga keposting. Alhamdulillah! J Dan, mbak Erya juga kebetulan sampe ngusulin sama gue buat bikin meme soal itu. Gue pun donlot dan mikir, apa sih celah yang bisa dimanfaatin buat meme ini. Dan, tada! Bayangin aja yaks kalo misalnye sidang cerai artis dilaksanain barengan sama sidang tipikor di ruang nyang sama, terus diberitain disitu! Atau gak, berita-berita khas acara berita pada umumnye (politik-ekonomi-sosial-budaya-hukum-pertahanan-keamanan) tapi pelakunye semuanye seleb! Waidah! Jadinya Reportase Selebriti, atau Insert tapi berita pengumuman pak Jokowi nurunin harga BBM! Alamak, bayangin aja deh!

Hahaha! Meme om Adrian udah, meme mbak Marissa Anita gue pernah bikin tapi belom diposting, meme mbak Shahnaz Soehartono belom, apa karena diri ini nggak terlalu ngefans sama mbak Shahnaz? Yahh gitu deh! Yang jelas, kenggaksengajaan diri ini membuat meme ini berawal dari gue yang nonton IMS di NET. sebelom sekolah seminggu jelang liburan semester, dimana performer di awal acaranya ntuh, d’Masiv! Bandnya si Rian dkk nih buka acara IMS, dan setelah mereka selesai nyanyi, langsung kesorot deh trio kompaknye mbak Marissa-mbak Shahnaz-om Adrian yang udah berdiri berjamaah nonton mereka di sekitar kameramen! Dan ternyata, di hari yang sama waktu pulang sekolah, di warnet gue gak sengaja nemu poto di Twitter dimana mereka lagi selfie dengan latar belakang d’ Masiv lagi manggung! Bah! Konser banget yaks kelakuan mereka. :D Selfie gitu kayak lagi ngayal seolah-olah d’ Masiv lagi konser malem-malem di lapangan terbuka! Ada-ada aja! Yaudah gue tanpa mikir lebih jauh lagi langsung ngedonlot tuh foto buat di-meme-in di saat yang sama dengan pembuatan meme kak Fanny dan kak Iqbal yang kesasar jadi host Insert Pagi barusan.

“Tukang bakso? Ganteng? Perasaan cuma ada di FTV model-model FTV SCTV gitu doang, kayak sopir angkot ganteng, satpam cantik, de es be! Gue sepaham sama Squidward!”
Aduuh, ini nyata keleus! Nyata! Really! Gak percaya?
ITU KAK IVAN KURNIA!!! HOST REPORTASE PAGI, SORE, DAN INVESTIGASI NTUH!!
Yaks, nih cowok ganteng ini emang beneran jadi tukang bakso naik gaji #halahsinetron. Hehe. Iyah, dia ini kan kalo di Reportase Investigasi kan hobi nyampain berita makanan berbahaya formalin borax segala macem ntuh kan, mungkin bisa jadi bisa jadi ya ya tidak tidak bakso berbahaya udah pernah dibahas sama doi. Entah apa ada hubungannye, mungkin terinspirasi tapi sekaligus belajar supaya kagak bikin bakso yang berbahaya, di tengah kesibukan dia yang seabrek banget di Trans TV, dia bikin usaha sampingan. Namanye Le Bakso, dimana sesuai namanye dia jualan bakso dengan rasa yang agak unik gitu, kayak bakso isi buah, cokelat apaan segala macem ntuh. Tapi gue belom pernah nyoba, jujur yaks! Maklum jauh dari ibukota, deketnya juga sama ibukota kabupaten, hehe. Gak percaya? Main-main aje di akun twitternya kak Ivan di @ivankb atau twitternye Le Bakso di @le_bakso.
Nah, ntuh potonye kak Ivan waktu ngikut sebuah event kuliner gitu. Ntuh poto gue donlot di saat yang sama dengan ketika gue donlot foto buat meme sapinye om Adrian. Poto SpongeBob sama Squidward yang gue pake ntuh koleksi butut yang udah dipake buat meme-meme sebelomnye. Ya udah,  gue meme-in, walaupun sempet ada typo, tetep gue edit biar semua berasa bener! Heheheu!
Nahh, ada juga ntuh meme yang belom sempet gue publish di socmed manapun dan bakal gue pamerin di blog ini. Tapi coming soon yaks guys!

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.
Flying Cute Pink Butterfly