Me and Marissa Anita Part 3 (And Last Season): Who’s Her? This is Her Biography!



Hallow semua! Udah lama nih part 3 dari Me and Marissa Anita cuma nguap doang tanpa realisasi harmonisisasi imunisasi reboisasi konspirasi vickynisasi neeh! Nahloh, sesuai janji gue gue bakalan ngasih biografi dari mbak Marissa yang gue sebagai salah satu posting pembuka di awal tahun sekaligus sekuel terakhir dari Me and Marissa Anita.

Nahh, dulu waktu ending season 2 kan gue pernah bilang kalo gue bakal ngasih bionye mbak Marissa sesuai apa yang gue tau. Tapi, ternyata gue sadar kalo gue juga butuh sumber-sumber lain buat ngelengkapin apa yang gue tau. Gak papa deh, sekalian nyari tau soal dia, hehehe. Terutama dari Wikipedia, Linked.in-nye mbak Marissa *maaf ya sebelumnye Mbak*, sama sumber lainnye (terutama media online) plus artikel koran lokal daerah gue yang pernah ngeberitain mbak Marissa jaman filmnye, Selamat Pagi, Malam, baru press screening.

Nahh, berikut ini nih biografinye mbak Marissa yang gue udah gabungin dari sumber sono-sini. Maaf kalo ada salah dalam hal apapun yang kalian temuin dalam biografi ini. Dan biografi mbak Marissa ini bahasanya baku! EYD! Langka banget di nih blog!

Pokoknye selamat baca yaks! Semoga bermanfaat! Cekidot!

****

Marissa Anita yang lahir di Surabaya, Jawa Timur, 29 Maret 1983 dan sekarang berumur 31 tahun adalah seorang jurnalis dan presenter berita Indonesia. Ia pernah berkarier di salah satu stasiun televisi swasta nasional, Metro TV. Ia mulai tenar setelah bersama koleganya yang lain memandu acara 8-11 Show dari jam 8 pagi sampai jam 11 siang hampir setiap harinya yang membuat namanya mulai dikenal luas. Ia kemudian pindah ke stasiun televisi swasta NET. pada Mei 2013 dan makin tenar ketika memandu program Indonesia Morning Show.

Marissa yang merupakan putri dari seorang ibu yang berdarah Minang dan ayah yang berdarah Jawa dan Tionghoa ini melalui masa kecilnya dengan berpindah-pindah kota karena aktivitas orang tuanya. Dia merupakan anak tengah dan satu-satunya perempuan, sementara kakak dan adiknya adalah laki-laki. Hal ini membuat Marissa menjadi sosok perempuan tomboy. Sebagai anak perempuan satu-satunya, ternyata Marissa tidak mendapat perlakuan yang berbeda. Malah menurut Marissa, kedua orangtuanya lebih membebaninya dalam urusan rumah. Termasuk diwajibkan untuk membantu urusan rumah. Karena disiplin dan didikan orangtua itu pula, Marissa terbiasa mandiri.

Tidak seperti anak-anak pada umumnya yang begitu mudah untuk mendapatkan barang yang diinginkan, Marissa harus menabung terlebih dahulu bila ingin membeli suatu barang. “Saya bersyukur karena saat saya berusaha sendiri dan akhirnya dapat, rasanya, tuh, beda dibandingkan kalau saya minta,” katanya dalam suatu wawancara dengan Tabloid Nova, Agustus 2011 lalu.


Suasana kekeluargaan dan kebersamaan saat ramadhan kemudian Lebaran ternyata juga dirasakan Marissa. Meski Marissa saat ini menganut agama Katolik, namun banyak pengalaman unik seputar puasa dan Lebaran yang dialaminya saat kecil, karena keluarganya yang memiliki beragam agama dan kepercayaan.”Ibuku Minang, Muslim. Bapak Jawa Cina, Katolik. Waktu kecil lucu, tidak seideal bayangan sih, namanya bapak ibu masih muda. Bapak narik ke Katolik, ibu dan nenek narik ke muslim. Aku diajarin salat dan lain-lain, tapi di saat yang sama ke gereja juga. Umur 4-5 tahun dikasih sajadah sama nenek dan ikutan salat juga,” ungkap Marissa saat ditemui GATRAnews di kawasan SCBD, Jakarta.

Mendapat pengaruh dari dua agama, Marissa mengakui ia menyerap nilai-nilai dari keduanya. Meski sempat bingung dan ikut sana-sini, Marissa percaya yang terpenting adalah bagaimana seseorang berbuat kebaikan terhadap orang lain. Ia juga mengagumi ibunya yang walaupun sedang menjalani ibadah puasa, tetap akan selalu memasak buat anak-anaknya.”Hebatnya dia pagi siang malam akan tetap menyiapkan makanan untuk anak-anaknya. Buat ibuku, puasa itu melatih kesabaran sekaligus menyebarkan cinta kasih. Dia nggak merasa terganggu atau orang harus hati-hati sekitar dia. Kan godaan sengaja ada agar menguji tahan atau nggak. My mom is a great example,” tutur anak tengah dari tiga bersaudara ini.

Meski tak menjalankan puasa, namun suasana Lebaran yang diisi dengan makan bersama keluarga menjadi kenangan yang manis buat Marissa sendiri. Apalagi ia kangen dengan masakan sayur ketupat ibunya. “Kalau Lebaran, ibu masak ketupat enak banget. Mom, I love you. Keluarga ibu dan bapak semuanya di Surabaya jadi kalau momen bersama ibu saat Lebaran cuma berlima aja. Kita semua bareng Natalan iya, Lebaran iya, dan Chinese New Year juga,” demikian Marissa.

Oiya, Marissa juga bisa bersiul dengan keras, indah, dan dengan vibra. Marissa mengaku bahwa keterampilannya bersiul merupakan hasil ajaran sang bunda ketika dirinya masih kecil, dan terbawa sampai sekarang. “Bersiul bisa membuat diri saya bahagia,” terang wanita yang juga mengaku terampil memasak ini.

Marissa Anita mengaku pernah menjadi anak yang tidak pintar ketika zaman sekolah dulu. Ia bahkan mengaku lebih sering bergaul dengan teman yang prestasinya kurang dari rata-rata di kelas. “Aku, tuh, main sama grup yang bodoh-bodoh, deh,” Marissa menceritakan pengalamannya ketika sekolah menengah pertama kepada Tempo.co, Jumat, 24 Mei 2013.

Ia pun mengaku dirinya pernah berada di peringkat terbelakang. Walau selalu naik kelas, pengalaman buruk itu terjadi sejak SD hingga SMP. Menurut dia, semakin naik kelas, prestasinya terus saja menurun. “What is wrong with me?” kata Marissa bingung terhadap dirinya kala itu. Menurut dia, semua terjadi karena ia sangat membenci sekolah. Marissa mengaku tidak punya semangat untuk bersekolah dan belajar. “Kalau sekolah itu kayak enggak tahu passion-nya apa,” ia mengakui.

Namun kehidupannya mulai berubah ketika duduk bersebelahan dengan Tita Cyntia saat kelas tiga SMP. “Tita itu cantik, pinter, enggak sombong lagi. Dan dulu itu jarang kayak gitu,” kata Marissa. Tita mengajarinya banyak hal. Ketika Marissa mengalami kesulitan pada pelajaran matematika atau bahasa Inggris, Tita membantunya memahami bagian yang ia tidak bisa.

Tita juga berkali-kali meyakinkan Marissa bahwa dirinya bisa melakukan segala hal. “Dia itu salah satu orang yang memotivasi aku untuk selalu menjadi lebih baik. And it’s so inspiring,” kata Marissa. “Sejak itu, aku mulai belajar dengan benar. Hingga lulus SMP dan masuk SMK Theresia,” kata wanita yang sejak SD hingga SMK bersekolah di sekolah Katolik ini.

Nahh, dulu ketika dirinya diarahkan untuk memasuki SMK jurusan tourism/pariwisata, tepatnya di SMK Theresia, ia mengaku tidak terlalu tertarik karena lebih berpikir untuk memilih jurusan mainstream.  Akhirnya dengan terpaksa ia masuk ke SMK pariwisata. Ketika di SMK, Marissa merasa datang di dunia baru. Tidak ada yang tahu prestasi buruknya selama SD hingga SMP. Teman-temannya mengenal wanita kelahiran Surabaya ini ketika di SMA atas prestasinya.

Dan, di luar dugaan, prestasinya ternyata sangat memuaskan, sehingga menjadikannya semakin termotivasi. Kenapa?

Pada masa SMA, ia semakin ngoyo belajar. Di kelas satu SMA, ia langsung masuk peringkat 16. Semakin rajin ia belajar di SMK dengan jurusan tourism itu, prestasinya pun semakin meningkat. “Sampai kelas 3 SMA, aku rangking tiga. Itu prestasi terbaikku semasa sekolah,” katanya.

Dulu semasa remaja, ia pernah terkena penyakit anoreksia atau masalah gangguan makan di mana tubuhnya menolak untuk makan alias kehilangan selera makan. Penyakit itu berawal ketika Marissa berusia 14 tahun. Berat badannya kala itu hanya 38 kilogram. Merasa bentuk tubuhnya kerempeng dan tak sebagus rekan-rekannya, ia lantas mengkonsumsi vitamin untuk mendongkrak bobot tubuhnya. Hasilnya, berat badannya naik 10 kilogram menjadi 48 kilogram.

Itulah bobot tubuh terberat yang pernah ia alami sepanjang hidupnya. Tapi, peningkatan berat badan yang drastis itu ternyata membuat Marissa malah minder. Ia malu karena merasa tubuhnya menjadi sangat gemuk. Akibatnya, Marissa memutuskan untuk berhenti makan.

Dalam sehari, ia hanya satu kali makan. Itu pun berupa semangkuk besar sayur bayam dengan ati. Bila rasa lapar menyergap, Marissa hanya melahap enam buah jeruk atau apel. Akibat diet ketat yang tak terkontrol ini membuat Marissa sering jatuh sakit dan pingsan karena lemah.

Orang tuanya khawatir terjadi apa-apa dengan putrinya itu. Ketika dibawa ke dokter, Marissa hanya divonis kurang gizi. "Selama enam tahun itu, sepertinya orang tuaku tidak sadar kalau aku punya penyakit anoreksia," kata wanita yang saat ini berbobot 47 kilogram dengan tinggi 168 sentimeter ini ketika diwawancarai Tempo.co awal Oktober 2014 lalu.

Marissa memang selalu konsisten dengan apa yang ia sukai. Inilah yang sempat membuatnya bermasalah karena menjadikannya sebagai pribadi yang perfeksionis. “Saya percaya bahwa hasil yang bagus adalah hasil ketekunan. Itu membuat saya sulit untuk tenang jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan.

“Contoh yang paling sederhana, ketika saya sedang membersihkan lantai, itu harus 100% bersih, tidak boleh ada satupun titik noda yang terlihat. Jika ada, itu membuat saya tersiksa untuk terus membersihkannya lagi dan lagi hingga benar-benar hilang. Sama ketika saya masih sangat oversensitive terhadap perasaan orang lain. Misalnya ada gesekan sedikit saja, saya bisa bereaksi lebih.”

Seiring dengan berjalannya waktu, kehidupan membuatnya semakin dewasa dan mudah berkompromi. “Ternyata, masih banyak hal yang lebih penting untuk kita pikirkan ketimbang harus stres dengan sedikit noda. Banyak hal yang memang tidak sesuai harapan, tetapi kita tetap harus berusaha mencapai apa yang ingin kita capai. Walau tidak sempurna, ya sudahlah. Life’s good. Don’t sweat a small things,” ungkapnya.

***



Sosok Marissa Anita bisa dibilang nyaris sempurna. Tapi, tak melulu hanya soal fisik, karena wanita tomboi ini membuktikan kecerdasannya. Terbukti, kecintaannya pada bahasa memudahkannya dalam mempelajari bahasa-bahasa lain selain bahasa ibu. Kini Marissa menguasai sedikitnya lima bahasa selain bahasa Indonesia, yaitu bahasa Inggris, Jepang, Perancis, Mandarin dan Italia. Nah, bagaimana proses Marissa mempelajari bahasa-bahasa tersebut?

Marissa menempuh pendidikan tingginya di Universitas Atma Jaya, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, dan mendapatkan gelar S1 dari universitas tersebut pada tahun 2005. Marissa sengaja memilih jurusan Bahasa karena memang sejak kecil ia sangat menyukai bahasa. Bahasa pertama yang ia pelajari adalah bahasa Inggris. Walaupun demikian, hal itu bukan prioritasnya. “Daripada memasuki kuliah manajemen yang sudah pasti saya tidak menguasainya, mending saya ke sekolah Bahasa Inggris.” Selanjutnya, ia mulai mempelajari bahasa Jepang, Prancis, Mandarin, dan Italia. “Saya cinta sekali sama bahasa dan buat saya menyerap bahasa itu sangat mudah,” ujarnya. Ternyata, semangat yang ditularkan Tita semasa SMP terus mengalir pada dirinya. Ia terus meningkatkan prestasi saat kuliah. Ia pun lulus S1 di tahun 2005 dimana hasilnya tidak sekadar memuaskan karena ia menjadi lulusan terbaik di angkatannya dan meraih IPK 3,82, ia langsung menjadi guru Bahasa Inggris di lembaga bimbingan belajar English First di kawasan Tebet, Jakarta Selatan dimana dia bekerja dengan tim yang terdiri dari guru lokal dan internasional serta belajar untuk berkomunikasi dan bekerja secara efektif dengan orang-orang yang berbeda budaya.

Hal ini berlanjut sebelum melanjutkan pendidikannya ke University of Sydney, New South Wales, Australia, pasasarjana Jurnalistik dimana ia meraih gelar Master of Media Practice (S2). Hal ini didasari ketertarikannya dengan dunia media. Ia pun terus menjadi juara hingga lulus menjadi salah satu dari enam siswa terbaik di kampusnya itu. “Cuma karena satu orang percaya, ‘You are better‘, aku bisa berubah. Dan aku rasakan sendiri,” katanya mengingat pengalamannya dengan Tita, salah satu teman kecilnya itu.

 Berat pada awalnya, karena untuk pertama kalinya, Marissa harus hidup di negeri orang. “Kalau ayah, sih, enggak masalah karena buat Ayah. Yang penting saya belajar dengan baik dan pulang ke rumah menjadi anak yang baik. Paling ibu yang agak sulit karena saya dekat sekali dengannya.” Dari sini juga mbak Marissa juga makin terdorong untuk memasak. “Mungkin belum menemukan resep yang pas saja. Dulu saya juga tidak bisa memasak. Terdorong untuk bisa ketika masa kuliah di Sydney, Australia mengingat biaya hidup di sana tidaklah murah. Hidangan pertama yang saya bisa masak adalah chicken curry ala Jepang. Simple saja, tinggal beli bumbunya masukkan wortel, kentang, jadi dan enak,” bangganya.

Sekarang, wanita yang mengaku tidak memiliki pembantu di rumahnya tersebut sudah bisa memasak segalanya, termasuk masakan Indonesia seperti soto kudus, soto tangkar, dan sebagainya. “Memang, tantangan untuk masakan Indonesia harus pintar mengolah bumbu. Kalau makanan luar negeri mungkin lebih mengandalkan merica dan garam. Walau itu saja sudah enak, tetap beda kepuasannyanya jika kita sudah bisa membuat memasakan Indonesia dengan rasa yang mantap.

Selain itu bagi Marissa, merupakan sebuah pencapaian tersendiri bila berhasil memasak sesederhana apapun, tetapi dapat dinikmati oleh orang yang kita sayangi. Suami saya termasuk pemakan segalanya, dan dia tidak pernah complain dengan apapun yang saya masak,” terang wanita berdarah campuran Cina dan Minang namun tidak menyukai masakan padang ini.

Di sela perkuliahan, terutama di masa liburan, Marissa selalu kembali ke tanah air. Bahkan suatu waktu, ia sempat mengisi waktu selama 3 bulan dengan magang di majalah Indonesia Tatler (PT. Mobiliari Stephindo) dari akhir tahun 2006 hingga awal 2007. Dari sanalah, kecintaan Marissa pada dunia jurnalistik semakin bertambah. Setelah menyelesaikan S2 dan kembali ke Indonesia, Marissa sempat kembali ke Indonesia Tatler sebagai kontributor, hingga akhirnya pintu peluang bekerja di televisi terbuka untuknya.

Marissa berkiprah di Metro TV sejak bulan Januari 2008 dengan terlebih dahulu menjadi reporter di lapangan yang dia jalani selama 3 tahun. Namun awalnya, ia sempat menderita tifus hingga dua kali akibat shift kerja yang menjungkirbalikkan jam biologisnya. “Begitulah saya, ketika sudah terjun di satu bidang, never give up, no matter how hard, just keep trying,” tegasnya. Sebelumnya, ia sempat menjadi wartawan cetak di Media Indonesia di tahun yang sama, namun tidak lama sebelum akhirnya menjadi wartawati Metro TV.

Dan, “Enggak nyangka, ternyata saat di Metro TV, saya bisa baik-baik saja bekerja di lapangan. Saya bisa melewati itu semua. Mulai masuk di Metro tahun 2008 dan selama 3 tahun saya menjadi reporter dulu,” jelasnya. Ia pun terlanjur jatuh cinta dengan dunia barunya. Dan, awal Mei 2011, dia dipilih oleh Canale France International untuk meliput Cannes Film Festival di Paris, Perancis bersama para jurnalis lainnya dari seluruh dunia selama dua minggu setelah melalui proses yang penuh persaingan. Pekerjaan Marissa selama disana yaitu memproduksi, menulis, membawakan, dan mengedit 11 laporan berita selama 11 hari. Pada Februari 2012, dia juga meliput Berlin International Film Festival di Berlin, Jerman. Yang dilakukan Marissa disana yaitu memproduksi, menulis, membawain, dan mengedit 14 laporan berita selama 10 hari.

Nah, Marissa mulai dikenal luas setelah memandu 8-11 Show bersama Tommy Tjokro (sekarang di Bloomberg TV Indonesia) dan Prabu Revolusi (sekarang di RTV). “Saya baru menjadi presenter full everyday itu di November 2010. Sebelumnya saya anchor di Metro Pagi dan Headline News . Di 8-11 Show , yang menarik adalah kemampuan improvisasi harus jalan terus. Walaupun ada hal-hal yang tak terduga terjadi, dan berhubung itu live, ya, sudah, itu natural.” Nah, sampai-sampai ketika dia masih di 8-11 Show, konsentrasinya bener-bener difokusin ke nih acara karena butuh ide segar setiap harinya. Selain itu, di Metro TV dia juga pernah mandu Metro Siang, Indonesia Now, dan program-program lainnya. Dari sinilah dia banyak dapet pengalaman dalam proses pembuatan berita. Dia juga memproduseri beberapa program berita di sana. Oiya, sejak 2010 sampe 2012, dia juga pernah menjadi kolumnis soal film di media online lokal di Sumatera Utara, Waspada Online, dimana dia menulis pembahasan soal film.

Sejak bulan Mei 2013, Marissa pindah dari Metro TV dan menjadi pembawa acara Indonesia Morning Show, 1 Indonesia, serta acara berita lainnya di stasiun televisi swasta NET.. Di IMS, dia membawakan program berita pagi ini dengan Adrian Maulana dan Shahnaz Soehartono. Sedangkan di 1 Indonesia,  program ini formatnya agak mirip dengan Aiman dan... yang dipandu Aiman Witjaksono di Kompas TV, yaitu wawancara-wawancara lebih dekat sama tokoh-tokoh populer di Indonesia seperti mantan ibu negara Ani Yudhoyono, Presiden Jokowi, Wakil Presiden Jusuf Kalla, mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan, dan beberapa waktu lalu juga ada fotografer Darwis Triadi, mantan binaragawan Ade Rai, dan penulis Dewi Lestari. Selain mejadi anchor senior di NET., Marissa juga sempat menjadi produser senior dan head of talent development dimana salah satu tugas Marissa yaitu melatih news presenter NET. lain sampe Mei 2014, ketika sejak bulan itu juga dia hanya menjadi anchor senior (mungkin karena mulai sibuk di dunia perfilman). Dia juga pernah memandu berita di NET. 10, NET. 12, dan NET. 17 serta program berita khusus (misalnye pelantikan Presiden Jokowi, terus quick count Pilpres, dan lainnya) dan pernah juga memandu Gebyar BCA (setelah acara ini pindah ke NET.) Hadir hampir setiap pagi di layar kaca (baik selama masih di 8-11 Show maupun sekarang di IMS) serta di program-program lainnya, wajah cantik, kecerdasan, keenerjikan, dan tawanya langsung menyita perhatian penonton. Senyum manis tak pernah lepas dari bibir mungilnya.

Seperti halnya memasak yang butuh banyak improvisasi, Marissa mengaku bahwa sehari-harinya juga tidak terlepas dari tuntutan improvisasi. Terlebih dalam hal pekerjannya sebagai presenter sekaligus jurnalis ketika menghadapi situasi sulit di lapangan.

Dalam hal ini, Marissa mengaku beruntung karena latar belakang kecintannya pada dunia theater sangat banyak membantunya. “Sering saya mengikuti workshop di mana saya hanya diberi satu kata kunci, kemudian saya diminta untuk mengarang sendiri ceritanya. Inilah yang membuat saya terbiasa menghadapi situasi-situasi tak terduga,” terang presenter cantik ini.

Terlepas dari itu, Marissa sangat percaya bahwa sesungguhnya hidup itu sudah ada jalannya. “Makanya prinsip hidup saya adalah ‘fifty-fifty’.  Setengahnya adalah ketentuan Yang Maha Kuasa, sisanyaa barulah diri sendiri. Jadi Yang Maha Kuasa membukakan jalan, atau memberi pancing, kitalah yang memaksimalkannya,” ungkapnya.

Dalam segala apa yang dilakukannya, termasuk urusan pekerjaan, Marissa mengaku selalu didukung penuh oleh keluarganya, terutama sang suami. Ya, Marissa pada tahun 2009 lalu melangsungkan pernikahannya pada usia yang ke 26 tahun dengan seorang pria berkebangsaan Australia, Andrew Trigg. Suaminya sangat memberikan support yang begitu besar terhadap kariernya. “Saat pacaran saja dia sangat mengerti saya, apalagi sekarang. Saya bahagia dengannya,” tuturnya singkat. Dukungan dari keluarga memang yang terpenting bagi Marissa, apalagi, dalam menjalankan tugas, ia kerap kali harus meninggalkan rumah dalam jangka waktu yang tidak sebentar.


Namun, apa yang terjadi sebelum Marissa akhirnya menikah dengan Andrew?

Trauma pada sebuah pengalaman pahit sempat membuat hatinya hancur berkeping-keping dan menjadikannya pribadi yang sulit. “Saya dulu sangat emosional.  Ada masa ketika saya tidak percaya orang dengan mudah. Sampai-sampai,  ketika saya berusia 20 tahunan, saya ingin tidak menikah. Kalaupun harus punya anak, mungkin di usia 30-an, entah itu dengan mengadopsi atau pergi  bank sperma,” kenangnya.

Keajaiban Tuhanlah yang Marissa rasakan dengan didatangkannya sosok pria yang kemudian mengubah segalanya, yang kini menjadi pendamping setianya (baca: Andrew Trigg). “It’s wonderful to find someone who fight for you, no matter how unperfect you are. Memang tidak ada seorangpun yang sempurna, tetapi saya benar-benar jauh dari sempurna. Ternyata dia bertahan, dan mau menerima kekurangan saya. Walau saya begitu cepat marah, intinya saya adalah orang yang baik. Itu menurutnya. Saya begitu terpukau bertemu dengan seseorang yang bisa menerima kekurangan saya. Ketika Anda menemukan seseorang yang mau berjuang untuk diri Anda, itulah orang yang tepat untuk dijadikan pasangan. Banyak orang yang mudah menyerah, itu hal yang wajar, dan itu adalah hak mereka untuk menyerah. Namun jika ada yang tidak mau menyerah, itulah orang yang mengagumkan.”

Marissa mengaku bahwa sangat tidak mudah menjadi orang yang bermasalah dengan kepercayaan. Belajar mencintai lagi adalah hal yang berbeda dibandingkan belajar mempercayai lagi. Bagaimana bisa Anda mencintai lagi jika untuk percaya saja Anda sulit. Jadi, tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menyembuhkan dulu luka tersebut, yang tentunya butuh proses dan waktu.

“Hingga sekarang, saya merasa bersyukur karena memiliki pasangan yang luar biasa dan keluarga tidak menekan saya untuk menjadi apa. Mereka tidak pernah melarang saya melakukan apapun. Yang penting saya serius dan menjalankan semuanya dengan senang hati.”

Pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman juga yang membuat seorang wanita tahu apa yang membuat dirinya pantas untuk memilih pria seperti apa yang layak mendapat label terbaik. Bagi Marissa, pria yang pantas untuk dijadikan pasangan adalah:

•    Terhubung.
 Buatnya, pria akan terlihat mengagumkan ketika bisa menjadi teman berbicara yang nyambung di segala hal. Mungkin tidak harus mendalami, tetapi bisa membuat topik pembicaraan apapun teranya menarik.
•    Baik hati. 
Bukan berarti pria tidak boleh marah sama sekali. Tentu akan ada hal yang tidak disetujui dan memicu perselisihan. Itu normal. Yang penting adalah dia punya hati yang tidak bisa menyakiti orang lain. Saya akan merasa aman menjadi pasangannya.
    Tidak pernah complain, apalagi terkait dengan mengkotak-kotakkan peran pria dan wanita. Pria harus mau berbagi tugas dalam urusan bersih-bersih rumah, bahkan untuk pekerjaan mencuci piring, menyapu, dan sebagainya.
•    Humoris. Ini sangat penting. Pria itu harus lucu. Bisa membuat saya tertawa setiap saat, menertawakan apa yang saya tertawakan. Itu adalah yang membuat kita sehat. Orang yang mudah tertawa itu bisanya berumur lebih panjang.

Nah, Marissa menunda untuk menunda momongan, padahal sudah enam tahun menikah. “Aku emang belum mau punya anak dulu,” kata Marissa, yang sudah menikah lima tahun itu, saat ditemui di Kebon Jeruk, Jakarta oleh Tempo.co. Kesibukannya yang padat membuatnya takut menjadi ibu yang tidak bisa melihat perkembangan anaknya. “I don’t want to be a bad mother,” katanya langsung.

Istri Andrew Trigg ini mengaku cukup sedih melihat pengalaman teman-temannya yang lebih sering menitipkan si anak kepada neneknya sementara pasangan itu kerja mencari uang. “Anaknya bisa tanya, kenapa dulu gue dikasih ke nenek. Aku kebayang aja kalo aku digituin sama anakku, i will feel so sad, and heartbroken,” katanya memberikan alasan ia belum siap untuk menjadi seorang ibu. Dalam wawancaranya dalam program Entertainment News di NET. ketika menghadiri premiere film pertamanya, Selamat Pagi Malam, ia juga pernah mengutarakan kalau ia tak mau menitipkan anaknya kelak kepada nanny (pengasuh).

Walau mengaku belum siap, wanita yang ingin punya anak paling banyak dua orang ini menargetkan akan punya anak pada umur maksimal 35 tahun. “I will be ready. One day. Not now. Paling lama umur 35 tahun aku mau udah punya,” kata lulusan sastra Inggris Universitas Atma Jaya ini.

Marissa mengaku tidak berminat sama sekali terjun ke dunia politik. Dia tak pernah bercita-cita menjadi seorang politikus. “Nggak pernah kepikiran sama sekali,” katanya ketika dihubungi Tempo, Rabu, 9 Oktober 2013. “Blas, I never want to be a politician.”

Marissa menganggap seorang politikus memiliki pekerjaan sangat sulit. “Haduh, politisi itu medannya sulit sekali,” kata dia, walaupun Marissa mengaku setuju dengan dinasti politik yang katanya sedang trend ini. “Saya sebenarnya nggak ada masalah sama dinasti politik selama dia mementingkan rakyat banyak.”

Ia akan memilih seorang politikus yang selalu memilih yang terbaik untuk rakyatnya. “Kalau bagus ke depannya, i would go for him,” katanya. Namun apakah ada keinginan terjun ke dunia politik, Marissa langsung menukas, “Nggak ah. Mending di media aja. Jadi bisa ngingetin para politikus itu.”



Marissa juga mencintai dunia teater, bahkan jauh sebelum ia menjadi seorang jurnalis ia telah menjadi pemain teater sejak tahun 2005. Ia biasa tampil dalam drama yang berbahasa Inggris bersama dengan komunitas teater ekspatriat berbasis amal di Jakarta, yaitu Jakarta Player. Pada bulan Mei 2013, Marissa kembali ke panggung teater dan menjadi pemeran utama sebagai Padusi dalam pementasan tarian Legendra Padusi, hasil karya maestro tari Tom Ibnur yang mengangkat kisah legenda perempuan (padusi) Minangkabau.

Ketika ditanya apa perbedaan signifikan drama Indonesia dibandingkan drama berbahasa Inggris, perempuan molek keturunan Minang, Cina dan Jawa ini menunjuk dua hal: bahasa tubuh dan kecepatan berbahasa.

“Di sini pelafalan bahasa cenderung lebih pelan dan lebih besar gerakannya,” kata Marissa. Meski begitu, dia mengaku menikmati belajar teater Indonesia.”Sebagai orang Indonesia, saya senang belajar teater Indonesia,” katanya dalam sebuah wawancara dengan Tempo.co awal Mei 2013 lalu, saat drama Legendra Padusi baru diluncurkan.

Marissa secara khusus mengaku kagum pada tim produksi ‘Legendra Padusi’. “Semuanya berkontribusi. Ini  seperti membuat lukisan abstrak tapi hasilnya bagus banget,” katanya antusias. Ke depan, Marissa ingin lebih banyak tampil di atas panggung teater.

"Kakekku katanya dulu juga pemain teater," ujar Marissa menceritakan asal-usul darah seni perannya itu ketika diwawancarai oleh Tempo.co November 2014 lalu.
Dalam karirnya baik sebagai aktris, presenter, maupun pemain teater, ia lebih ekspresif. Padahal anehnya, saat masih kecil ia lebih dikenal sebagai anak yang pendiam dan penakut. Tak seekspresif sekarang. Sebab, seperti kebanyakan orang tua di Indonesia, Marissa selalu ditegur dengan kata 'jangan' setiap kali akan melakukan sesuatu. "Anak Asia kan kebanyakan ditekan. Jangan inilah, jangan itulah, makanya jadi pemalu," katanya. Tapi, saat ini, Marissa lebih dikenal sebagai wanita yang aktif, ekspresif, dan semangat. Mungkin karena pengaruh teater dan pekerjaannya sebagai presenter, ya bukan?

Karya yang melibatkan beberapa nama besar, seperti Nia Dinata sebagai penulis naskah, Ine Febriyanti, Jajang C. Noer, Niniek L. Karim, dan Arswendy Nasution, serta 50 penari dan musisi yang disutradarai Rama Soeprapto itu kemudian dipentaskan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Marissa memulai debut pertama dalam dunia perfilman dalam film Selamat Pagi, Malam yang rilis pada Juni 2014 lalu. Dalam film yang mengangkat sisi lain kehidupan kota Jakarta ini, Marissa berperan sebagai Naomi yang merupakan seorang lesbian yang dirundung dilema dalam kehidupannya dan sahabat kental dari peran yang diperankan oleh Adinia Wirasti. Berkat aktingnya yang sangat mendalam, ia pun masuk nominasi Pemeran Wanita Pembantu Terpuji dalam Festival Film Bandung tahun 2014, walaupun tidak memenangkannya.


Pada April 2014, Marissa bergabung dalam sebuah produksi film feature yang diproduksi oleh Oreima Pictures dan disutradarai oleh Rako Prijanto, berjudul 3 Nafas Likas. Di film ini, Marissa bermain bersama Atiqah Hasiholan, Vino G. Bastian, Tutie Kirana, Tissa Biani, Jajang C Noer, dan Mario Irwinsyah. Syuting dilaksanakan mulai 26 April 2014 dan berseting di Sumatera Utara, Jakarta dan Ottawa, Kanada. Dalam film ini, ia diceritakan sebagai seorang penulis. Tokoh yang ia perankan diceritakan sedang melakukan riset pada sosok Likas, istri dari Djamin Ginting. Peran Marissa dalam film tersebut sangat dekat dengan profesinya sehari-hari. Oleh karenanya ia mengaku tak mendapat kesulitan sedikit pun untuk mendalami karakternya.

"Ngerasa deja vu ya, tapi bikin syuting lebih ringan karena banyak ngobrol sama orang yang lebih pengalaman juga," ungkapnya saat ditemui di kawasan Setia Budi, Jakarta oleh Clear.co.id, beberapa waktu lalu. Film ini telah rilis September 2014.

Marissa berpendapat dunia jurnalistik yang dia geluti selama ini dengan seni peran yang baru dirambanya mempunyai kesamaan. Oleh karena itu, Marissa ingin tetap bisa fokus di dua dunia tersebut.

“Dunia wartawan dan seni peran seperti kaki saya. Kalo yang satu nggak ada, saya ngerasa nggak nyaman. Saya nggak bisa kalo disuruh milih, karena intiya adalah performance. Apakah membawakan berita atau pun membawakan cerita intinya membawakan sebuah pesan,” ujar Marissa saat ditemui di Press Screening Selamat Pagi, Malam di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa, 17 Juni 2014, seperti dikutip dari Babel News edisi 19 Juni 2014.

“Saya sudah 9 tahun main di teater dan akhirnya masuk ke dunia film. Masuk ke film nggak terlalu banyak penyesuaian karena sebelumnya saya sudah main di teater,” lanjutnya.

Marissa juga tidak menutup kemungkinan akan mengambil peran dalam film-film berikutnya. Yang terpenting baginya adalah nyaman dan suka pada cerita yang ia perankan. “Saya go with the flow aja, ketika dikasih rejeki sama Tuhan untuk terlibat dalam seuah film, kenapa tidak? Ketika kesempatan datang ya ambil aja, ketika kita suka sama ceritanya kenapa nggak,” tutur Marissa.

Dalam meniti karirnya sebagai aktris, ternyata Marissa cukup selektif dalam memilih tawaran. Seperti apa peran-peran yang ia inginkan?

Mengenai peran yang diinginkan, Marissa mengaku tidak punya kriteria khusus. Namun, Marissa mengutamakan peran-peran yang otentik, yaitu sosok yang dekat dengan kenyataan sehingga nantinya pesan yang ingin disampaikan bisa diterima dengan baik oleh masyarakat. “Jujur saya belum kepikiran pengen target peran apa, tapi saya akan terus ngejar peran yang otentik (tidak terlalu jauh dari realita). Saya suka film yang ceritanya mudah dikonsmsi tapi sebenernya dalem,” tandasnya.

Peran otentik tersebut, seperti perannya sebagai penulis dalam film 3 Nafas Likas yang dekat dengan profesinya sehari-hari sebagai anchor. Ia yakin peran yang demikian bisa lebih menjangkau penonton. "Lebih suka dengan peran-peran otentik, bukan over puitis karena bikin penonton susah nyambungnya. Rasanya terlalu besar, jauh dari realita," papar Marissa.

SELESAI.

Sumber: Dari berbagai sumber, terutama http://id.wikipedia.org/wiki/Marissa_Anita dan sumber lainnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.
Flying Cute Pink Butterfly